Redaksi.co MAMUJU : Suara jerit histeris dan isak tangis pecah di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Mamuju. Kamis, 30 Juli 2026 menjadi hari paling kelam bagi Nenek Sani. Di usianya yang sudah senja, ia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tempatnya berteduh puluhan tahun dan menyandarkan hidupnya diratakan dengan tanah, menyusul eksekusi lahan atas sengketa antara Nuryani D melawan dirinya.
Tak kuasa menahan remuk hatinya, tubuh renta Nenek Sani roboh. Ia tak sadarkan diri di tengah riuhnya proses pengosongan bangunan yang selama ini menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Suasana kian memilukan saat pihak keluarga yang mendampinginya menangis histeris, meratapi ketidakberdayaan seorang lansia yang mendadak kehilangan tempat tinggal dalam sekejap mata.
Nenek Sani yang terkulai lemas harus segera dievakuasi dari reruntuhan pondok sederhananya. Di tengah debu yang membumbung dan jeritan pilu yang menyayat hati, hilang sudah gubuk reoknya yang selama ini melindunginya dari terik matahari dan hujan.

Peristiwa yang begitu menyayat hati ini mengetuk nurani masyarakat luas. Tergerak oleh rasa keprihatinan yang mendalam atas nasib tragis sang nenek, warga sekitar Kecamatan Kalukku berbondong-bondong mengulurkan tangan. Seperti yang disampaikan oleh Suwandi Patta, gelombang donasi dan bantuan mengalir deras untuk Nenek Sani.
Meskipun uluran tangan warga tak mampu menghapus trauma dan mengembalikan kenangan di tanah yang kini berstatus sengketa itu, setidaknya hangatnya kepedulian tetangga menjadi pelipur lara di tengah dinginnya kenyataan yang harus dihadapi Nenek Sani. (ZUL)

