JEMBER, redaksi.co – Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Budi Luhur, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, kini tak lagi bergantung pada musim penghujan untuk menanam padi. Cukup menekan saklar dan mengisi token listrik, air langsung mengalir ke sawah. Kondisi ini membuat petani optimistis mampu melakukan tanam padi hingga tiga kali dalam setahun (01/03/2026).
Perubahan tersebut merupakan hasil dari Program Optimasi Lahan (Oplah) yang diprakarsai Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan kurang optimal melalui perbaikan infrastruktur irigasi, tata kelola air, serta pembenahan kondisi tanah.
Poktan Budi Luhur menjadi salah satu penerima manfaat melalui bantuan IRPOM (Irigasi Perpompaan), yakni sistem irigasi teknis yang memanfaatkan pompa air untuk mengambil sumber air dari sungai.
Sebelumnya, lahan pertanian seluas 34,91 hektare di wilayah tersebut tidak dapat sepenuhnya dialiri air. Minimnya sumber air serta buruknya saluran irigasi membuat petani hanya bisa mengandalkan hujan untuk menanam padi.
“Untuk sawah yang berada di pinggir sungai masih bisa mengambil air menggunakan mesin diesel, meskipun biaya operasional membengkak. Namun untuk lahan di bagian tengah dan hilir hanya bisa ditanami komoditas lain, sehingga tidak bisa tanam serentak,” ujar Fathoni, Ketua Poktan Budi Luhur.
Melihat kondisi tersebut, Fathoni bersama anggota kelompok terus menggagas solusi agar para petani dapat menanam padi tanpa harus menunggu turunnya hujan. Melalui bimbingan dan arahan Dinas Pertanian Kabupaten Jember, mereka mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah pusat.
“Alhamdulillah, dengan dukungan dari dinas pertanian, permohonan kami disetujui,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Poktan Budi Luhur memperoleh bantuan pipanisasi sepanjang 325 meter. Namun karena dinilai belum mencukupi untuk menjangkau seluruh lahan, para petani secara swadaya menambah jaringan pipa hingga total mencapai 576 meter.
Sistem tersebut memanfaatkan air sungai yang diisap menggunakan mesin pompa listrik. Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa yang dilengkapi panel buka-tutup di setiap saluran, sehingga distribusi air dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing petak sawah.
Dengan tersedianya sumber dan jaringan air baru ini, Poktan Budi Luhur optimistis mampu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP).
“Dulu kami hanya satu kali tanam padi dalam setahun. Dengan adanya program ini, kami yakin bisa hingga tiga kali tanam karena kebutuhan air sudah tercukupi,” ucap Hadi, salah satu petani setempat.
Para petani juga menyatakan komitmennya mendukung program pemerintah, baik pusat maupun daerah, khususnya program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan nasional.
Program ini selaras dengan upaya Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Jember dalam meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Ke depan, para petani berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada kelompok mereka saja. Masih banyak kelompok tani lain di wilayah sekitar yang menghadapi persoalan serupa, terutama terkait ketersediaan air.
“Semoga program ini tidak berhenti di sini saja. Masih banyak kelompok tani di wilayah sekitar yang kekurangan air dan belum tersentuh bantuan. Mudah-mudahan ke depan juga bisa mendapatkan program serupa,” harap Fathoni.
Bagi para petani, ketersediaan air bukan sekadar soal irigasi, melainkan kunci keberlanjutan produksi pangan. Dari sawah-sawah itulah ketahanan pangan daerah dan nasional terus dijaga (yan).






