Redaksi.co MAMASA : Suasana memanas. Aliansi Perjuangan Mahasiswa Mamasa (APMM) melontarkan ultimatum keras terkait dugaan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Mambi. Operasional SPBU yang hanya buka pada malam hari dan menutup layanan di siang hari memicu kecurigaan publik, bahkan disebut sebagai pola janggal yang berpotensi merugikan masyarakat luas.
Perwakilan APMM, Muh. Nabir, menegaskan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar layanan buruk. Ia menyebut dugaan tersebut mengarah pada pelanggaran hukum serius dan indikasi permainan distribusi BBM bersubsidi.
“Masyarakat kesulitan mendapatkan BBM di siang hari, sementara SPBU beroperasi tertutup. Kondisi ini menimbulkan dugaan kuat adanya praktik distribusi tidak transparan,” tegasnya dengan nada keras.
APMM menilai situasi tersebut sebagai bentuk ketidakadilan yang mencolok. Menurut mereka, operasional yang tidak lazim berpotensi mengabaikan prinsip pengelolaan sumber daya yang seharusnya berpihak pada kepentingan rakyat. Dugaan penyalahgunaan distribusi BBM pun disebut sebagai masalah besar yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada aparat penegak hukum. Mahasiswa menilai lambannya respons terhadap dugaan penimbunan BBM memunculkan tanda tanya besar. Jika kondisi ini berlangsung tanpa tindakan, publik berhak mempertanyakan komitmen aparat dalam melindungi masyarakat.
“Kepolisian tidak boleh diam. Pembiaran hanya akan memperkuat anggapan bahwa hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas,” ujar Nabir.
Dalam pernyataan sikapnya, APMM melontarkan tuntutan tegas:
1. Mendesak kepolisian segera mengusut dugaan penimbunan BBM dan menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
2. Mendesak investigasi dan audit menyeluruh terhadap operasional SPBU Mambi.
3. Mendesak pemerintah daerah bertindak tanpa kompromi terhadap dugaan pelanggaran.
4. Menuntut transparansi distribusi BBM guna mencegah praktik mafia BBM.
5. Jika terbukti melanggar, meminta SPBU Mambi ditutup dan izinnya dicabut.
APMM menegaskan aksi demonstrasi besar-besaran akan digelar jika tidak ada kejelasan hukum. Mahasiswa menyatakan siap turun ke jalan dan tidak akan tinggal diam ketika akses masyarakat terhadap BBM diduga terganggu oleh praktik mencurigakan. Situasi ini berpotensi memicu gelombang protes lebih luas apabila tuntutan mereka terus diabaikan. (ZUL)







