Redaksi.co MAMASA : Saat sebagian warga beranjak menunaikan ibadah salat Jumat dengan khusyuk pada Jumat (2/10/2026) siang, nasib tragis tengah mengintai sebuah keluarga kecil di Dusun Pamoseang, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa. Suara ledakan keras yang sempat terdengar dari arah dapur sekitar pukul 12.00 WITA menjadi awal bencana memilukan yang menghanguskan seluruh harapan hidup pasangan suami istri tersebut.
Seusai salat Jumat, warga yang penasaran mencari asal ledakan itu dikejutkan oleh kobaran api yang sudah menjilat dan melalap sebagian rumah kayu milik Acong (61). Panik dan kepulan asap membumbung tinggi. Tanpa membuang waktu, warga berbondong-bondong berupaya memadamkan si jago merah. Namun, takdir berkata lain. Pasokan air yang tidak ada membuat lidah api kian mengganas dan dengan sangat cepat melahap seluruh bangunan kayu yang rapuh itu hingga rata dengan tanah.
Di balik puing-puing abu yang tersisa, ada kenyataan yang jauh lebih menyayat hati. Acong dan istrinya merupakan pasangan berkebutuhan khusus (kurang mental). Di tengah keterbatasan dan kebingungan yang mendalam, mereka hanya bisa menyaksikan seluruh harta benda yang mereka kumpulkan bertahun-tahun ludes tanpa tersisa. Satu unit sepeda motor Revo, 12 karung padi hasil jerih payah di ladang, dokumen-dokumen penting, pakaian, hingga uang tunai Rp2.500.000, bagian dari total kerugian yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah, seketika berubah menjadi abu.
Hati siapapun akan teriris melihat kondisi mereka seusai kejadian. Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, luka psikologis yang ditinggalkan tak terbayangkan. Pasangan malang yang belum bisa diajak berkomunikasi karena guncangan mental ini kini harus kehilangan tempat bernaung.
Kobaran api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 15.45 WITA oleh personel Polsek Mambi di bawah pimpinan IPDA Riswandi bersama warga setempat. Dalam suasana duka yang mendalam, Kapolsek Mambi IPDA Riswandi dan Kepala Desa Pamoseang M. Sabir merangkul korban untuk memberikan penguatan moril serta bantuan darurat seadanya.
Kini, di saat orang lain bisa beristirahat di rumah yang hangat, pasangan suami istri yang malang ini harus menahan dinginnya malam dan keterasingan. Mereka terpaksa mengungsi dan tidur di sebuah pondok kebun tua, berjarak 2 kilometer jauhnya dari pemukiman warga Desa Pamoseang, menatap masa depan dalam ketidakpastian di tengah puing-puing hidup mereka yang mendadak sirna. (ZUL)
