Oleh : Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab.Sukabumi, Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi dan Presidium KAHMI Sukabumi
Redaksi.co || Visi Mubarakah (Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah) bukan sekadar jargon politik atau retorika elektoral, melainkan manifestasi peta jalan strategis menuju transformasi Kabupaten Sukabumi yang bermartabat dan inklusif.
Namun, dalam mewujudkan visi besar ini tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik semata, diperlukan pendekatan holistik-integratif yang mensinergikan pembangunan infrastruktur material dengan rekayasa sosial berbasis penguatan spritual dan karakter, yang secara fundamental dapat dicapai melalui optimalisasi “Tiga Pilar Institusi Islam” : Pesantren, Masjid, dan Majelis Taklim.
Pesantren: Laboratorium SDM “Unggul” dan “Maju”
Secara historis, pesantren bukan sekadar institusi transmisi ilmu agama. Ia adalah laboratorium bangsa yang memainkan peran vital dalam mencetak individu berkarakter, berintegritas, dan mandiri. Lebih dari itu, pesantren telah lama berdiri sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu melahirkan agen perubahan di berbagai lini kehidupan.
Guna menjawab tantangan global dan mengaktualisasikan visi mubarakah, pesantren harus direvitalisasi menjadi pusat inkubasi SDM yang adaptif melalui tiga langkah strategis:
Transformasi Kurikulum yang Adaptif: Mengintegrasikan literasi digital dan sains ke dalam kurikulum tradisional tanpa mengikis jati diri serta nilai-nilai luhur kepesantrenan.
Pengembangan Jiwa Santripreneur: Menanamkan mentalitas kewirausahaan agar santri tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga penggerak ekonomi riil yang mandiri.
Sinergi Intelektual dan Moral: Memadukan kedalaman ilmu turats dengan penguasaan teknologi mutakhir untuk melahirkan generasi yang Maju secara kompetensi, namun tetap Rendah Hati secara spiritual.
Dengan langkah ini, pesantren akan bertransformasi menjadi pusat inkubasi SDM unggul yang mampu membawa Kabupaten Sukabumi bersaing di kancah nasional hingga global.
Mesjid: Episentrum Peradaban yang “Berkah”
Dalam perspektif sosiologi religius, masjid bukan sekadar entitas fisik berupa bangunan peribadatan (ritualitas murni), melainkan sebuah institusi multidimensional yang berfungsi sebagai titik temu antara aspek ketuhanan (hablum minallah) dan kemanusiaan (hablum minannas).
Oleh karena itu, masjid harus direvitalisasi ke fungsi orisinalnya sebagai pusat pemberdayaan umat, yang salah satunya dengan menghidupkan ekonomi umat (seperti Baitul Maal atau koperasi masjid). Karena sejatinya, masjid yang mampu memakmurkan jamaahnya secara ekonomi dan mengedukasi secara sosial adalah perwujudan nyata dari keberkahan yang terukur.
Keberkahan bukan lagi konsep abstrak, melainkan dampak nyata (outcome) berupa meningkatnya kesejahteraan dan menurunnya angka kerentanan sosial di lingkungan sekitar. Dan Inilah yang disebut dengan pusat integrasi sosial di mana program pemerintah dan kebutuhan warga dapat bertemu.
Majelis Taklim: Garda Terdepan Masyarakat “Berbudaya”
Sebagai institusi dengan jangkauan akar rumput terluas, Majelis Taklim memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan keluarga melalui internalisasi nilai-nilai teologis yang kontekstual. Seperti menumbuhkan nilai-nilai etika, sopan santun, dan kearifan lokal yang kian tergerus oleh arus modernitas.
Dalam ruang sosial kontemporer, Majelis Taklim harus diposisikan sebagai benteng pertahanan strategis dalam memitigasi degradasi moral serta menangkal paham radikalisme yang berpotensi memicu disintegrasi bangsa.
Lebih spesifik lagi, lembaga ini memegang mandat moral untuk merawat jati diri Kabupaten Sukabumi yang Religius dan Berbudaya. Dan melalui sinergi antara nilai ukhuwah dan kearifan lokal, Majelis Taklim harus dapat memastikan identitas daerah tetap kokoh dan relevan di tengah dinamisasi zaman
Dalam mensukseskan Visi Mubarakah memerlukan orkestrasi yang harmonis. Jika pemerintah memberikan dukungan regulasi dan anggaran, maka ketiga institusi ini harus menjawabnya dengan inovasi gerakan. Dan ketika pesantren, masjid, dan majelis taklim bergerak serentak secara profesional, maka masyarakat yang maju dan unggul bukan lagi sekadar impian, melainkan keberkahan yang nyata dirasakan oleh seluruh warga Sukabumi.***
Editor : OPK







