Peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al-Huda: Mengaji dengan Hati, Menjemput Keberkahan dengan Bahagia

0
16


PADANGSIDIMPUAN – Masjid Al-Huda di Komplek DPRD Sidempuan Indah dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara yang dihadiri berbagai tokoh penting ini berlangsung khidmat, edukatif, sekaligus penuh dengan suasana kekeluargaan.

Hadir dalam acara tersebut Ketua BAZNAS Kota Padangsidimpuan Drs. H. Zainal Arifin Tampubolon Lc. MA, jajaran Kepala Lingkungan, serta unsur Harajaon dan Hatobangon yang duduk berdampingan dengan masyarakat umum.

Ketua BKM Masjid Al-Huda, H. Hotma Dalid Harahap, menyampaikan bahwa kehadiran para tokoh ini merupakan simbol kuatnya persatuan warga di wilayah Sidempuan Indah dan sekitarnya.

Dakwah yang Menyejukkan dan Menghibur

​Puncak acara diisi oleh tausiyah dari Ustadz Suprin Efendi Lubis, Lc. MA. Beliau piawai membawakan kisah perjalanan agung Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha dengan gaya yang sangat menarik. Tidak hanya memaparkan peristiwa besar tersebut secara serius, Ustadz Suprin menyelipkan humor-humor cerdas dan kisah jenaka penuh hikmah di balik perintah sholat lima waktu.

Gaya penyampaian yang jenaka ini membuat jamaah terhibur dan tidak bosan, namun tetap mampu meresapi pesan inti tentang bagaimana transformasi spiritual Isra Mi’raj dapat menjadikan kita umat terbaik (Khairu Ummah).

​”Perjalanan Isra Mi’raj mengajarkan kita keteguhan hati. Menjadi umat terbaik bukan berarti kaku, melainkan harus memiliki hati yang bersih, disiplin dalam sholat, dan tetap membawa keceriaan serta kedamaian bagi orang di sekitarnya,” pesan Ustadz Suprin di sela-sela ceritanya


Tradisi Makan Bersama Usai Dzuhur

Nuansa kekeluargaan semakin terasa saat waktu Dzuhur tiba. Setelah melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Seluruh tamu undangan, tokoh masyarakat, dan warga duduk melingkar menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Momen makan bersama ini menjadi penutup yang manis, di mana sekat antara pejabat, tokoh adat, dan warga biasa melebur dalam obrolan santai dan tawa. Tradisi ini seolah mempraktikkan langsung pesan ustadz mengenai pentingnya menjaga silaturahmi, kekompakan, dan kemaslahatan sosial pasca peringatan hari besar Islam tersebut.