Redaksi.co, Jakarta | Book Launch and Panel Discussion: The Pancasila Market Economy digelar di Four Seasons Hotel Jakarta, Senin (11/5). menghadirkan Dr.Denis Suarsana, Prof. Didik J Rachbini, Haris Munandar, Dr. Ali, S.T, M.Si, sejumlah akademisi, ekonom, dan pemangku kepentingan untuk membahas arah reformasi ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Direktur Konrad Adenauer Stiftung Indonesia dan Timor-Leste, Dr. Denis Suarsana, mengatakan buku tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang antara KAS dan Universitas Paramadina dalam membangun gagasan ekonomi berbasis Pancasila dan ekonomi pasar sosial.
“Ekonomi pasar sosial menjadi dasar keberhasilan ekonomi Jerman sejak 1950-an. Di Indonesia, kami melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara prinsip ekonomi pasar sosial dan nilai-nilai Pancasila,” ujar Denis.
Menurut Denis, Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat. Ia menilai konsep ekonomi Pancasila dapat menjadi model ekonomi khas Indonesia yang relevan menghadapi tantangan pembangunan menuju 2045.
“Indonesia adalah negara yang unik dengan sejarah dan nilai-nilai yang khas. Karena itu, ekonomi Pancasila harus terus diperbarui agar mampu menjawab kebutuhan reformasi ekonomi nasional,” katanya.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mengungkapkan bahwa ekonomi Pancasila merupakan bagian dari ekonomi konstitusi yang menempatkan keseimbangan antara negara dan pasar sebagai fondasi pembangunan.
“Pasar adalah institusi penting dalam peradaban. Tetapi negara juga harus hadir. Jadi sebenarnya ada dua kekuatan besar, yaitu state dan market,” ujar Didik.
Penerapan nilai persatuan dalam ekonomi nasional masih menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, kesenjangan antarwilayah menunjukkan bahwa cita-cita ekonomi Pancasila belum sepenuhnya terwujud.
“Kalau kita sejahtera sementara daerah lain masih tertinggal, berarti nilai persatuan dalam ekonomi belum tercapai,” katanya.
Sementara itu, Senior Director and Head International Policy Group Bank Indonesia, Haris Munandar, mengatakan buku tersebut hadir pada momentum penting ketika Indonesia tengah menuju visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Haris, ekonomi tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan dan investasi, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Ekonomi hadir ketika seorang ibu menghitung harga kebutuhan pokok, ketika anak muda mencari pekerjaan, dan ketika pelaku UMKM berharap usahanya bisa berkembang,” ujar Haris.
Pasar dan negara harus berjalan seimbang agar pembangunan ekonomi tetap berkeadilan dan manusiawi.
“Yang kita butuhkan adalah ekonomi yang memiliki keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, antara kompetisi dan solidaritas, antara efisiensi dan keadilan,” katanya.
Haris menambahkan, reformasi struktural harus memiliki arah moral yang berpijak pada nilai Pancasila agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya besar secara angka, tetapi juga dirasakan masyarakat luas.
Acara peluncuran buku tersebut juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah penulis dan ekonom nasional untuk membahas penguatan konsep ekonomi Pancasila di tengah dinamika global dan transformasi ekonomi Indonesia.



