Redaksi.co MATENG.: Dentuman semangat tradisi menggema di Desa Benggaulu, Kecamatan Karossa. Di tengah gegap gempita pawai Ogoh-ogoh yang digelar umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi, aparat kepolisian tak tinggal diam, turun langsung mengawal setiap langkah, memastikan perayaan sakral ini tak berubah menjadi kekacauan.
Sekitar 50 Kepala Keluarga atau hampir 200 umat Hindu tumpah ruah di jalanan desa. Dengan penuh antusias, mereka mengarak Ogoh-ogoh, simbol pengusiran roh jahat, dalam balutan semangat budaya yang membara. Namun di balik kemeriahan itu, pengamanan ketat menjadi sorotan utama.
Kapolsek Karossa, IPTU Didik Prihanto, memimpin langsung operasi pengamanan. Bersama personelnya, termasuk Briptu Rokirex, mereka menyisir rute pawai, mengendalikan arus lalu lintas, hingga memastikan tak ada celah gangguan yang bisa merusak jalannya acara.
Kehadiran aparat bukan sekadar formalitas. Ini adalah sinyal tegas, negara hadir, menjaga tradisi tetap hidup tanpa mengorbankan keamanan.
“Ini bukan hanya pengamanan, tapi komitmen kami menjaga kedamaian dan toleransi,” tegas IPTU Didik Prihanto.
Di lokasi, Kepala Desa Benggaulu dan para tokoh agama Hindu turut menyaksikan jalannya pawai. Kolaborasi antara masyarakat dan aparat menciptakan suasana yang bukan hanya aman, tapi juga sarat makna persatuan.
Meski sempat berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas, situasi tetap terkendali. Polisi sigap mengurai arus kendaraan, menghindari gesekan yang bisa memicu konflik di tengah keramaian.
Hasilnya? Pawai berlangsung tertib, meriah, dan penuh energi kebersamaan.
Di tengah keberagaman yang kerap diuji, Benggaulu justru menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya, tradisi berjalan, keamanan terjaga, dan toleransi berdiri kokoh.
Namun satu pesan jelas tersirat: tanpa pengawalan serius, euforia bisa berubah jadi petaka. Dan kali ini, Polsek Karossa memastikan itu tidak terjadi. (ZUL)







