JEMBER, redaksi.co – Di hamparan sawah Dusun Sumber Kelopo, Desa Curah Kalong, Kecamatan Bangsalsari, denyut swasembada pangan nasional mulai terasa nyata. Di antara petak-petak lahan yang selama ini bergantung pada kemurahan musim, kini mengalir harapan baru melalui Program Optimasi Lahan (Oplah) berupa pipanisasi (18/02/2026).
Program ini bukan sekadar pembangunan jaringan air. Bagi Kelompok Tani Sumber Kelopo 01, Oplah adalah fondasi menuju kemandirian produksi, langkah konkret menjadikan desa sebagai simpul kekuatan pangan nasional.
Dengan anggaran Rp157 juta, sepanjang 746 meter jaringan pipa telah terbangun. Sumber air yang dialirkan berasal dari mata air pegunungan di sekitar wilayah tersebut, yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk irigasi pertanian. Melalui sistem pipanisasi, potensi alami tersebut kini dioptimalkan menjadi penopang produksi pangan.
Dampaknya segera terasa. Sekitar 34,16 hektare lahan kini memperoleh suplai air yang lebih stabil, mengakhiri ketergantungan panjang pada musim hujan.
Selama lebih dari satu dekade, petani di wilayah ini hanya mampu menanam padi pada musim tanam pertama. Memasuki musim berikutnya, sawah terpaksa dibiarkan atau ditanami kacang tanah sebagai alternatif bertahan akibat keterbatasan air. Produktivitas terhambat, pendapatan pun tak pernah benar-benar tumbuh.
“Dulu kami tidak berani tanam padi di musim kedua karena pasti kekurangan air. Sekarang alhamdulillah sudah ada perubahan, meski belum merata,” ujar Teguh Wahyudi, Ketua Poktan Sumber Kelopo 01.

Masuknya air dari mata air pegunungan melalui jaringan pipanisasi menjadi titik balik yang menentukan. Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani optimistis dapat meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua bahkan tiga kali dalam setahun. Jika skenario ini terwujud, produksi beras berpotensi melonjak dua hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya.
Apabila seluruh 54,16 hektare lahan dapat teraliri secara optimal, peningkatan produksi padi diyakini akan memberi kontribusi signifikan bagi ketahanan pangan Kabupaten Jember hingga Jawa Timur. Desa bukan lagi sekadar penerima program, melainkan motor penggerak swasembada.
Namun, perjalanan ini belum sepenuhnya rampung. Untuk mengairi lima blok lahan secara menyeluruh, dibutuhkan sekitar 5.000 meter jaringan pipa. Artinya, masih terdapat sekitar 20 hektare lahan yang belum tersentuh secara maksimal.
Penyempurnaan infrastruktur tersebut bukan sekadar kelanjutan proyek, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi peningkatan produksi dan kesejahteraan petani. Optimalisasi sumber mata air pegunungan yang melimpah di kawasan tersebut diyakini mampu menjadi solusi permanen jika jaringan distribusi air diperluas.
Program ini selaras dengan visi swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan penguatan sektor hulu pertanian terutama ketersediaan air sebagai fondasi utama produksi. Tanpa air, intensitas tanam tak mungkin ditingkatkan; tanpa infrastruktur, ketahanan pangan hanya menjadi retorika.
Para petani menyatakan komitmennya untuk menjaga akuntabilitas bantuan dan meningkatkan produktivitas sebagai bentuk tanggung jawab terhadap negara. Mereka berharap dukungan lanjutan dari Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Jember agar perluasan jaringan pipanisasi dapat segera direalisasikan.
Dari Sumber Kelopo, satu pesan mengalir bersama air pegunungan yang kini membasahi sawah: swasembada pangan tidak lahir dari slogan, melainkan dari kerja nyata di desa. Ketika air hadir, harapan tumbuh, dan dari harapan itulah masa depan pangan bangsa disemai.
Jika Anda ingin, saya juga bisa menambahkan penegasan soal aspek keberlanjutan lingkungan (misalnya pengelolaan debit mata air agar tidak over-eksploitasi) supaya narasinya makin kuat dan berimbang (Sofyan).







