REDAKSI.CO || Di tengah gemuruh konflik global yang kian tak menentu, Indonesia berdiri di ambang ujian sejarah. Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar mandat politik, melainkan amanah spiritual untuk menjaga keselamatan negeri. Dalam kacamata filsafat, kepemimpinan adalah jembatan antara kehendak rakyat dan takdir Tuhan. Di sinilah Doa dan Sholawat hadir bukan sekadar ritual, melainkan “senjata batin” yang menggerakkan solidaritas nasional.
Spritualitas Sholawat: Pondasi Ketahanan Mental
Sholawat adalah manifestasi cinta yang melampaui logika materialistik. Ia adalah energi pengikat yang menyatukan hati. Saat dunia dihantui ancaman krisis pangan dan energi, kekuatan spiritual menjadi benteng pertama agar bangsa ini tidak terjebak dalam kepanikan (chaos). Dengan ber-sholawat, kita mengaktivasi kesadaran kolektif bahwa kekuatan sejati berasal dari Yang Maha Kuasa, yang kemudian ditransformasikan menjadi gerakan gotong royong di dunia nyata.
Sinergi Tokoh dan Gerakan Rakyat Semesta
Keselamatan negeri menuntut penguatan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Ini bukan hanya tugas militer, melainkan keterlibatan aktif pesantren, masjid, padepokan, lembaga pendidikan, hingga tokoh budaya.
Anto Kusumayuda, Ketua Umum PPJNA 98, menegaskan dukungannya terhadap integrasi kekuatan ini. Menurutnya, kepemimpinan Prabowo-Gibran memerlukan dukungan penuh dari akar rumput untuk mengoptimalkan semua potensi domestik. “Persatuan adalah harga mati. Kita harus merapatkan barisan, mengesampingkan perbedaan demi menghadapi ancaman global yang nyata di depan mata,” ujarnya.
Senada dengan itu, Yudi Suryadikrama, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, melihat getaran doa sebagai katalis persatuan. “Dzikir dan doa bagi pemimpin adalah tradisi luhur. Ini adalah upaya mengetuk pintu langit agar Presiden dan Wakil Presiden diberi kekuatan, kebijakan, dan perlindungan dalam menahkodai kapal besar Indonesia melewati badai krisis,” ungkap Yudi.
Literasi dan Kepekaan Sosial
Menghadapi tantangan zaman, kecerdasan spiritual harus dibarengi dengan kecerdasan literasi. Dede Heri, Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, menekankan pentingnya kepekaan kebersamaan. “Masyarakat harus cerdas memilah informasi agar tidak terpecah belah. Gotong royong harus dimulai dari literasi yang sehat di tingkat desa hingga kota, mendukung kedaulatan pangan dan energi secara mandiri,” tegasnya.
Kesimpulan
Menghadapi krisis global bukan hanya soal kecanggihan teknologi atau strategi ekonomi, melainkan soal kedalaman tauhid dan solidaritas. Sholawat yang menggema di pesantren, masjid, dan padepokan adalah “bahan bakar” bagi jiwa bangsa. Dengan sinergi antara ulama, tokoh budaya, dan pemerintah, Indonesia tidak hanya akan selamat, tetapi muncul sebagai bangsa yang mandiri, kuat, dan diberkahi.
Mari kita jadikan setiap tarikan napas gotong royong sebagai bentuk ibadah nyata mewujudkan kemandirian dan untuk menjaga kedaulatan NKRI.
Editor : Abdul Salam Nur Ahmad (Sekjen PPJNA 98)







