Oleh : Anto Kusumahuda dan Aam Abdul Salam (Ketum dan Sekjen PPJNA 98/Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih)
REDAKSI.CO || Ramadan hari ke-29 bukan sekadar hitungan kalender yang akan berakhir. Secara filosofis, ia adalah titik puncak pendakian spiritual di mana jiwa manusia berada pada kondisi paling bening setelah sebulan penuh menempa diri. Di ambang pintu perpisahan dengan bulan suci ini, Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis (PPJNA) 98 mengambil momentum sakral untuk bersimpuh, merundukkan ego, dan melangitkan doa bagi keselamatan bangsa.
Menyerukan gerakan “Munajat Mengetuk Pintu Langit”. Sebuah seruan spiritual yang lahir dari kesadaran bahwa di atas segala strategi politik dan kekuatan duniawi, ada Kekuatan Transendental yang memegang kendali atas nasib sebuah bangsa.
Spiritualitas di Tengah Guncangan Fitnah
Dalam kacamata spiritual, ujian yang menimpa seorang pemimpin adalah keniscayaan. Saat ini, Presiden Prabowo Subianto tengah menghadapi gelombang “goncangan fitnah” yang datang silih berganti, baik dari dalam maupun luar negeri. Fitnah, dalam tradisi filsafat Timur, seringkali merupakan refleksi dari ketakutan pihak-pihak yang enggan melihat kemapanan keadilan.
PPJNA 98 memandang bahwa upaya-upaya yang merongrong kewibawaan pemerintah bukan sekadar dinamika politik, melainkan ujian kesabaran bagi kepemimpinan nasional. Melalui doa di hari ke-29 Ramadan ini, kita memohon agar Presiden Prabowo diberikan perisai spiritual (bashirah) agar tetap kokoh, tidak goyah oleh intrik, dan selalu dalam lindungan-Nya dari segala makar yang ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah.
Kabinet Merah Putih: Amanah sebagai Ibadah
Secara filosofis, kekuasaan adalah amanah yang sangat berat. PPJNA 98 secara khusus memanjatkan doa agar jajaran Kabinet Merah Putih tetap solid dan tegak lurus pada kepentingan rakyat. Soliditas kabinet adalah kunci; tanpa kesatuan visi, sebuah pemerintahan akan mudah retak dari dalam.
Kita mengetuk pintu langit agar para menteri dan pembantu presiden dijauhkan dari sifat khianat dan didekatkan pada sifat shiddiq (jujur) serta amanah (terpercaya). Kekuatan fisik dan kesehatan bagi Presiden serta kabinetnya adalah prasyarat utama untuk menjalankan tugas kenegaraan yang sangat kompleks menuju Indonesia yang adil dan makmur.
Menjemput Keberkahan untuk Negeri
Keberkahan (Barakah) berarti “tumbuhnya kebaikan”. Munajat ini adalah ikhtiar batin agar transisi dan perjalanan kepemimpinan nasional membawa pertumbuhan kebaikan bagi seluruh rakyat.
PPJNA 98 meyakini bahwa kekuatan doa rakyat yang tulus, terutama di saat-saat mustajab menjelang Idul Fitri, akan menjadi energi positif yang mampu meredam energi negatif dari fitnah dan perpecahan. Mari kita jadikan hari ke-29 Ramadan ini sebagai momentum untuk menyatukan hati:
1. Mendoakan keselamatan NKRI dari segala ancaman disintegrasi.
2. Memohon kekuatan bagi Presiden Prabowo agar dikuatkan pundaknya memikul beban negara.
3. Mengharap keadilan dan kemakmuran menjadi kenyataan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Saatnya kita berhenti saling menjatuhkan dan mulai saling mendoakan. Sebab, ketika pintu langit telah diketuk dengan ketulusan aktivis dan doa rakyat, tidak ada kekuatan fitnah manapun yang mampu membendung kehendak-Nya untuk menjaga negeri ini. ****
EDITOR : AS







