*Ketika Cinta Salah Waktu Naik Panggung: Debut Cemara Delapan Menggetarkan PPHUI”

0
6

Jakarta, Redaksi.Co – Malam itu, ruang pertunjukan di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail tak sekadar menjadi tempat pementasan, Ia berubah menjadi ruang batin—tempat emosi, kenangan, dan luka cinta berkelindan dalam satu tarikan napas panjang. Minggu (12/4/2026), Sanggar Teater Cemara Delapan menandai langkah perdananya melalui lakon Sayang Ada Orang Lain, sebuah karya yang berani mengulik sisi paling rapuh dari perasaan manusia.

Di tangan sutradara Eddy Dharmawanto, cerita ini tidak diposisikan sebagai drama romantis biasa, Ia menjelma menjadi potret getir tentang cinta yang hadir di waktu yang keliru—tentang pilihan yang tak pernah benar-benar hitam atau putih,Setiap adegan seperti mengajak penonton menelusuri lorong-lorong sunyi dalam diri sendiri.

Sejak lampu panggung pertama menyala, energi para pemain terasa mengalir tanpa jarak.

Dialog yang lirih namun tajam, berpadu dengan gestur yang jujur, menciptakan kedekatan emosional yang sulit dihindari, Penonton bukan hanya menyaksikan, tetapi ikut “terlibat”—seakan menjadi bagian dari konflik yang tersaji di atas panggung.

Menariknya, pementasan ini tidak larut dalam kesedihan semata,Sentuhan humor yang muncul di momen-momen tak terduga menjadi penyeimbang yang cerdas,Tawa yang pecah sesaat kemudian berubah menjadi hening yang dalam—menciptakan dinamika rasa yang membuat penonton tetap terpikat hingga akhir pertunjukan,
“Yang kami kejar bukan sekadar cerita, tapi pengalaman rasa,” ungkap Eddy usai pementasan, menegaskan visi artistik yang diusungnya.

Antusiasme penonton menjadi bukti bahwa pertunjukan ini berhasil menjangkau berbagai lapisan, Salah satunya datang dari Andi Mulyati Pananrangi,SE Ketua Umum Aliansi Jurnalis Bersatu, yang turut hadir dan memberikan apresiasi.

“Pertunjukan ini punya kedalaman emosi yang kuat, Tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak kita bercermin,” ujarnya.

Dari sisi artistik, kesederhanaan justru menjadi kekuatan,Tata panggung yang minimalis dipadukan dengan permainan cahaya yang presisi mampu membangun suasana tanpa berlebihan, Setiap detail terasa diperhitungkan untuk mendukung narasi, bukan sekadar estetika.

Menjelang penutup, suasana berubah hangat,Batas antara pemain dan penonton mencair dalam interaksi yang penuh keakraban, Tawa, foto bersama, hingga obrolan santai menjadi penutup yang manis setelah perjalanan emosional yang intens.

Debut ini bukan sekadar awal, Ia adalah pernyataan,
Bahwa Sanggar Teater Cemara Delapan hadir dengan keberanian, kejujuran, dan visi yang jelas. Di tengah riuhnya kehidupan kota, mereka menawarkan sesuatu yang langka: ruang untuk merasakan kembali—bahwa cinta, sesulit apa pun bentuknya, selalu punya cerita untuk dibagikan.