Kepala SDN 02 Wringinagung Dengan Sabar Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus

0
166

JEMBER, redaksi.co – Tak ada kata menyerah bagi Eni Khusniyah, Kepala Sekolah SDN 02 Wringinagung, Kecamatan Jombang Kabupaten Jember. Di tengah padatnya tugas sebagai pimpinan sekolah, ia tetap sabar dan konsisten mengabdikan diri demi memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang setara.

Selain menjalankan peran sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, dan motivator, Eni Khusniyah juga turun langsung mengajar dua siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh, sejalan dengan visi dan misi sekolah.

SDN 02 Wringinagung sendiri merupakan sekolah inklusi, yang membuka ruang bagi siswa berkebutuhan khusus untuk belajar bersama siswa lainnya. Saat ini terdapat empat siswa ABK dengan kondisi yang beragam. Sebagian sudah dapat mengikuti pembelajaran di kelas reguler, sementara yang lain masih memerlukan bimbingan khusus di luar kelas.

“Kalau anak belum bisa dilepas di kelas, maka kami lakukan pendampingan khusus. Kami menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak,” ujar Eni Khusniyah saat ditemui diruangannya pada hari kamis 15 Januari 2026

Dari keterangan Eni Jenis kebutuhan khusus yang ditangani meliputi ADHD, disabilitas intelektual, tuna rungu, dan tuna wicara. Salah satu siswa dengan disabilitas intelektual secara usia seharusnya duduk di kelas tiga, namun usia mentalnya masih setara anak TK, bahkan di bawahnya. Kondisi tersebut menuntut pendampingan ekstra dan pendekatan pembelajaran yang sangat personal.

Menurut Eni, dalam membimbing anak-anak berkebutuhan khusus, guru tidak bisa memaksakan standar kemampuan seperti pada siswa reguler. “Kami harus menurunkan ego dan cara pandang kami. Tidak bisa menuntut anak harus cepat pintar, cepat membaca, atau cepat memahami. Yang terpenting adalah mengikuti ritme perkembangan anak,” jelasnya.

Pendekatan tersebut telah dijalankan selama dua tahun terakhir dan mulai menunjukkan hasil positif. Salah satu siswa ABK bernama Finaldo, kini sudah mampu menulis dengan lebih rapi, menceritakan gambar, menghafal hitungan, serta mengikuti gerakan dalam kegiatan olahraga dan senam. Aktivitas tersebut dinilai sangat membantu dalam merangsang kecepatan berpikir dan perkembangan motorik anak.

Selain Finaldo, terdapat pula seorang siswa perempuan yang mengalami trauma, yang juga mendapatkan perhatian dan pendampingan khusus dari pihak sekolah.

Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang membutuhkan kesabaran, empati, dan dedikasi tinggi. Bagi Eni Khusniyah, keberhasilan sekecil apa pun dari anak-anak tersebut adalah pencapaian besar yang patut diperjuangkan.

Reporter: Sofyan.