Redaksi.co MAMUJU : Ikatan Pelajar Mahasiswa Tapalang (IPMATA) melontarkan kritik keras terhadap pembangunan program Sekolah Rakyat di Sulawesi Barat yang dinilai minim keberpihakan kepada tenaga kerja lokal. Sorotan itu mencuat setelah beredar informasi bahwa sekitar 750 pekerja dari luar daerah didatangkan menggunakan pesawat carter untuk mengerjakan proyek tersebut.
IPMATA menilai kondisi tersebut mencederai semangat pemberdayaan masyarakat lokal di tengah tingginya kebutuhan lapangan pekerjaan bagi pemuda dan warga Sulawesi Barat.
“Kami mempertanyakan alasan penggunaan ratusan tenaga kerja dari luar daerah, bahkan sampai didatangkan menggunakan pesawat carter. Di saat yang sama, masih banyak masyarakat Sulawesi Barat yang membutuhkan pekerjaan,” tegas Kadri, kader IPMATA.
Menurut IPMATA, pembangunan Sekolah Rakyat seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, bukan justru memperbesar peluang kerja bagi tenaga dari luar daerah.
Mereka menegaskan bahwa putra daerah memiliki kemampuan dan layak mendapatkan prioritas, terutama untuk pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh tenaga kerja lokal.
“Program ini mestinya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar. Putra daerah harus menjadi prioritas utama,” lanjutnya.
Selain menyoroti penggunaan tenaga kerja luar daerah, IPMATA juga mendesak adanya transparansi dalam proses perekrutan pekerja pada proyek tersebut. Mereka meminta pemerintah daerah dan pihak kontraktor memberikan penjelasan terbuka kepada publik agar tidak memicu keresahan di tengah masyarakat.
“Kami bukan menolak pembangunan Sekolah Rakyat. Program ini tentu baik untuk pendidikan masyarakat. Namun, yang kami soroti adalah keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal,” ujar perwakilan IPMATA.
IPMATA berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek strategis tersebut agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat Sulawesi Barat, baik dari sisi pendidikan maupun peningkatan ekonomi warga sekitar.
Isu penggunaan ratusan pekerja dari luar daerah kini menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan besar terkait komitmen pemberdayaan tenaga kerja lokal dalam proyek-proyek strategis di Sulawesi Barat. (ZUL)

