Redaksi.co MAMUJU : Gagasan pembentukan Ikatan Alumni Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mamuju (IKA HIPERMAJU) mengemuka sebagai langkah strategis untuk menghimpun kekuatan intelektual dan solidaritas para perantau asal Mamuju. Inisiatif ini dinilai bukan sekadar membangun wadah alumni, tetapi menghadirkan “rumah besar” yang mampu mengikat identitas, gagasan, dan pengabdian bagi pembangunan daerah.
Muhammad Yusuf, S.H., M.H., alumni Hipermaju, menegaskan bahwa Mamuju bukan hanya wilayah administratif, melainkan ruang hidup dan ruang ingatan bagi masyarakatnya. Dalam filosofi Mandar, tanah Manakarra dipandang sebagai “Angngatan Simemangang”, tempat nilai diwariskan dan identitas dijaga lintas generasi.
Meski realitas perantauan membuat anak-anak Mamuju tersebar di berbagai kota besar, ikatan batin tetap terjaga. Nama Mamuju terus hidup di kalangan mahasiswa, profesional, hingga birokrat yang berkiprah di tingkat nasional maupun global. Dari kesadaran itulah muncul kebutuhan untuk melembagakan ikatan tersebut melalui pembentukan IKA HIPERMAJU.
Dalam konsep yang digagas, IKA HIPERMAJU dirancang berdiri di atas tiga pilar utama. Pertama, sebagai simpul solidaritas yang menjadi ruang berbagi peluang, solusi, dan dukungan bagi alumni. Program seperti Dana Abadi Pembolongang disebut sebagai simbol gotong royong modern berbasis kearifan lokal.
Kedua, sebagai pusat produksi gagasan. Dengan melibatkan Dewan Pakar lintas profesi, organisasi ini diharapkan menjadi think tank daerah yang mampu memberikan masukan strategis bagi pembangunan Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu, hingga Provinsi Sulawesi Barat.
Ketiga, sebagai jembatan kaderisasi. IKA HIPERMAJU diharapkan tetap terhubung dengan mahasiswa dan pemuda perantauan melalui program mentorship, pendampingan karier, serta fasilitasi akses pendidikan untuk menjaga estafet kepemimpinan.
Selain memperkuat peran internal, IKA HIPERMAJU juga dirancang sebagai mitra strategis pemerintah daerah tanpa kehilangan independensinya. Kemitraan dengan pemerintah kabupaten dan provinsi akan dibangun secara setara, profesional, serta bebas dari kepentingan politik praktis.
Sikap independen ini dinilai penting agar organisasi dapat memberikan rekomendasi kebijakan secara objektif sekaligus mengawal pembangunan secara partisipatif tanpa kehilangan legitimasi moral.
Struktur organisasi yang dirancang mencakup Musyawarah Besar, Dewan Pembina, Dewan Pakar, hingga pengurus pusat dan wilayah. Namun, lebih dari sekadar struktur, sejumlah program konkret telah disiapkan, seperti digitalisasi jaringan alumni, platform kolaborasi bisnis, beasiswa gotong royong, hingga gerakan “pulang kampung intelektual” untuk mendorong kontribusi nyata para perantau.
Pembentukan IKA HIPERMAJU pada akhirnya dipandang sebagai upaya meneguhkan kembali identitas bersama masyarakat Mamuju. Nilai keterbukaan, kebersamaan, dan saling menopang diharapkan menjadi roh organisasi dalam menggerakkan solidaritas dan pengabdian.
“Sejauh apa pun merantau, kita tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanya mengumpulkan bekal untuk pulang membangun kembali tanah kelahiran,” demikian semangat yang mengiringi gagasan tersebut, dengan harapan terwujudnya Mamuju yang maju, sejahtera, dan berdaya saing. (ZUL)






