Jakarta, 23 September 2026 ,REDAKSI.CO— Horor tak selalu membutuhkan sosok menyeramkan yang muncul di depan mata. Film terbaru Tuta Films, Hasut, justru membangun teror melalui sesuatu yang jauh lebih dekat dengan keseharian suara.
Disutradarai sekaligus ditulis Ilya Sigma, film horor-misteri ini mengajak penonton mengikuti perjalanan empat sahabat yang masuk ke tengah hutan untuk menjalani ritual penyembuhan. Namun, perjalanan yang awalnya ditujukan untuk mencari kedamaian perlahan berubah menjadi permainan psikologis yang menguji batas kepercayaan mereka.

Suara-suara misterius yang muncul melalui HT menjadi sumber teror utama. Bukan sekadar memberikan petunjuk, suara tersebut perlahan memengaruhi pikiran para karakter, memunculkan kecurigaan, serta membuka kembali luka dan trauma masa lalu yang selama ini mereka pendam.
Pertanyaan pun mulai bermunculan siapa sebenarnya yang berada di balik suara tersebut? Dan ketika semua orang mulai terlihat mencurigakan, siapa yang masih bisa dipercaya?
Konsep tersebut menjadi kekuatan utama Hasut. Film ini memilih menghadirkan horor tanpa mengandalkan penampakan makhluk gaib secara langsung.
Ketegangan dibangun melalui suara, situasi, serta perubahan psikologis empat karakter yang semakin sulit membedakan kenyataan dengan apa yang mereka dengar.
Empat pemeran utama, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, dituntut membangun chemistry sekaligus konflik dalam ruang cerita yang sebagian besar berlangsung di tengah hutan.
Keempat karakter datang dengan persoalan masing-masing.
Ketika suara misterius mulai “membajak” HT mereka dan menghasut satu sama lain, rasa percaya perlahan runtuh. Trauma masa lalu yang belum terselesaikan ikut menjadi pemicu munculnya konflik hingga hubungan mereka berubah menjadi penuh kecurigaan.
Ilya Sigma mengatakan Hasut menjadikan rasa curiga dan kepercayaan sebagai bagian penting dari cerita.
“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar Ilya Sigma.
Produser Siera Tamihardja menilai pengalaman menonton Hasut akan membawa penonton mempertanyakan kembali hal-hal yang selama ini dianggap benar dan dapat dipercaya.
Sementara itu, bagi Rachel Amanda, keterlibatannya dalam Hasut menjadi tantangan tersendiri. Film ini menjadi film horor ketiga yang dibintanginya, dengan sebagian besar proses cerita berlangsung di lokasi hutan dan berpusat pada empat karakter.
Menurut Rachel, kondisi alam justru menjadi bagian penting dalam membangun teror psikologis film tersebut. Hutan menjadi ruang yang membuat karakter-karakternya berhadapan dengan sisi diri yang selama ini mereka sembunyikan.
“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita,” ujar Rachel Amanda.
Karina Salim juga menyoroti hubungan karakternya dengan karakter yang diperankan Rachel Amanda. Keduanya digambarkan sebagai kakak-adik yang sama-sama membawa trauma masa lalu.
Salah satu adegan yang menurut Karina cukup emosional terjadi ketika kedua karakter tersebut akhirnya mencoba membicarakan luka masa lalu mereka untuk pertama kalinya.
Di tengah suasana hutan yang terisolasi, suara menjadi satu-satunya petunjuk sekaligus ancaman. Setiap informasi yang terdengar bisa saja merupakan kebenaran, tetapi juga dapat menjadi kebohongan yang sengaja dirancang untuk menghancurkan kepercayaan.
Dengan pendekatan tersebut, Hasut menawarkan bentuk teror yang tidak berhenti ketika layar menampilkan kegelapan.
Ketakutan justru muncul dari pertanyaan sederhana yang terus menghantui bagaimana jika suara yang kita percaya ternyata sedang menghasut kita?.
Film Hasut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
