BANJIR JERENENG KEMBALI MENGGILA, WARGA SENTIL PUPR DAN BUPATI LOBAR

0
19

BANJIR JERENENG KEMBALI MENGGILA, WARGA SENTIL PUPR DAN BUPATI LOBAR

Lombok Barat – Redaksi.co Air kembali menari liar di atas aspal. Minggu, 22 Februari 2026 pukul 15.10 WITA, ruas Jalan Rengganis Raya, Bajur, Kecamatan Labuapi, tepatnya di kawasan Terowongan Jereneng, kembali berubah menjadi kolam dadakan. Kendaraan merayap seperti perahu darurat, sementara warga terpaksa menggulung celana demi menembus genangan.

Ironisnya, ini bukan cerita baru. Ini lagu lama yang terus diputar tanpa pernah diganti nadanya.

Salah satu pengusaha asal Jereneng, H. Insan, angkat suara. Ia meminta Dinas PUPR Kabupaten Lombok Barat agar tidak lagi menutup mata terhadap persoalan yang sudah menjadi langganan tahunan ini.

Ini bukan sekali dua kali. Saluran di lokasi ini harus segera disterilisasi, bahkan kalau perlu dibangun ulang. Jangan sampai air terus menggenangi jalan seperti ini. Kami butuh solusi, bukan pembiaran,” tegasnya.

Menurutnya, genangan tersebut bukan sekadar mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi membahayakan pengendara dan merugikan pelaku usaha di sekitar lokasi.

Keluhan serupa disampaikan Bapak Sam, warga setempat. Ia berharap Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini, tidak hanya fokus pada pembangunan di wilayah Gerung semata.

Jangan hanya fokus membangun di Gerung saja. Lihat kami di daerah Terowongan Jereneng ini. Ini pintu masuk Kota Mataram. Masa wajah depan kabupaten seperti ini terus?” ujarnya dengan nada kecewa.

Ia menilai persoalan ini sudah terlalu lama luput dari perhatian Pemerintah Daerah Lombok Barat. Jalan strategis yang menjadi akses vital justru seolah dibiarkan tenggelam setiap musim hujan tiba.

Kritik warga ini bukan tanpa alasan. Jika setiap hujan deras kawasan ini berubah menjadi genangan permanen, maka patut dipertanyakan keseriusan perencanaan drainase dan pengawasan infrastruktur di wilayah tersebut.

Pemerintah daerah tidak boleh alergi terhadap kritik. Justru suara warga seperti ini adalah alarm keras yang seharusnya membuat pejabat terkait bergerak cepat, bukan sekadar menunggu air surut lalu lupa.

Sudah saatnya Pemda Lombok Barat membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya sebatas seremoni dan papan proyek. Infrastruktur dasar seperti drainase adalah urat nadi. Jika terus tersumbat, maka yang tersendat bukan hanya air, tetapi juga kepercayaan publik.

Warga Jereneng kini menunggu tindakan nyata, bukan janji yang hanyut bersama arus.

Sumber: Media Nasional Investigasi – Redaksi.co

Abach Uhel