Anak Anak Sekolah Terganggu Usai Jembatan Gantung di Tanjungsari Leuwidinding Sukabumi Rusak

0
22

Redaksi.Com,.Sukabumi || Putusnya jembatan gantung di Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, menghambat aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah. Jembatan tersebut rusak setelah diterjang luapan Sungai Cimandiri pada 28 Desember 2025.

Sejak kejadian itu, para pelajar yang biasa melintasi jembatan terpaksa menyeberang sungai menggunakan perahu karet milik BPBD Kabupaten Sukabumi. Pilihan lainnya adalah menggunakan jalur darat alternatif dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang.

Jembatan sepanjang kurang lebih 40 meter dengan lebar sekitar 1,2 meter tersebut sebelumnya menjadi jalur penghubung utama antara Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, dan Kampung Kebonjati, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh. Saat ini, kondisi jembatan tidak dapat dilalui karena rusak total.

Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menyampaikan bahwa kerusakan jembatan berdampak pada mobilitas warga di sejumlah wilayah. Selain masyarakat Desa Tanjungsari, warga dari kecamatan lain juga ikut terdampak.

“Jembatan ini akses tercepat menuju sekolah di Desa Sirnaresmi dan Parakanlima. Warga dari Kecamatan Gunungguruh, Cikembar, bahkan Nyalindung juga memanfaatkan jalur ini,” ujar Dilah, Kamis (22/01/2026).

Di sekitar lokasi terdapat dua sekolah dasar, yaitu SDN Kadupugur dan SDN Leuwidinding. Sebagian besar siswa berasal dari wilayah seberang Sungai Cimandiri. Di Kampung Leuwidinding, delapan RT terdampak langsung akibat rusaknya jembatan tersebut.

Untuk sementara, BPBD Kabupaten Sukabumi menyiagakan perahu karet sebagai sarana penyeberangan. Namun, kondisi ini dinilai belum aman, terutama saat hujan deras yang dapat menyebabkan debit Sungai Cimandiri meningkat secara cepat.

“Ketika hujan turun di wilayah hulu, arus sungai bisa naik mendadak dan berisiko bagi warga yang menyeberang,” kata Dilah.

Pemerintah Desa Tanjungsari berharap adanya percepatan penanganan dari pemerintah daerah maupun provinsi untuk membangun kembali jembatan permanen agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Salah seorang warga, Popi (35), mengaku harus rutin mengantar anaknya menyeberang sungai. Jika perahu tidak dapat beroperasi, ia terpaksa menggunakan jalur alternatif melalui kawasan PT Siam Cement Group (SCG) dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

“Kalau lewat jalur itu jaraknya jauh sekali, hampir tiga kali lipat. Suami saya yang berangkat kerja naik motor juga harus memutar,” ujarnya.

Hingga saat ini, warga masih bergantung pada bantuan BPBD untuk menyeberang sungai. Di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih berlangsung, keselamatan warga dan pelajar menjadi perhatian utama.***(RAF)

Editor : Yosep.M