Redaksi.co MAMUJU : Selasa, 20 Oktober 2026, Partai Golongan Karya (Golkar) resmi menginjak usia 62 tahun sejak pertama kali berdiri pada Oktober 1964. Angka ini menegaskan posisinya sebagai salah satu partai politik tertua yang masih eksis di peta politik nasional, meski tak bisa disandingkan langsung dengan partai-partai di Amerika Serikat atau Eropa yang telah berumur ratusan tahun.
Sejarah mencatat, jauh sebelum Indonesia berdiri secara yuridis formal, De Indische Partij telah lahir pada 1912 lewat gagasan Tiga Serangkai: Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Ernest Douwes Dekker. Namun, partai itu berumur seumur jagung akibat dibubarkan pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang ketakutan.
Di kancah regional, jejak Golkar paling mirip dengan United Malays National Organisation (UMNO) di Malaysia. Sama-sama bertindak sebagai single majority (partai berkuasa tunggal), UMNO dan Golkar mendominasi panggung politik negara masing-masing selama berdekad-dekad. Jika UMNO identik dengan ketokohan Tun Dr. Mahathir Mohamad (101 tahun) yang memimpin selama 22 tahun (1981–2003), maka Golkar ditempa oleh figur besar Soeharto serta tokoh penentu arah: Akbar Tandjung.
Bagi Golkar, sosok Akbar Tandjung bukan sekadar mantan Ketua Umum (1998–2004), melainkan figur ‘penyelamat‘. Pascareformasi 1998, Golkar berada di titik terendah dan nyaris musnah ditelan arus sejarah. Gelombang demonstrasi mahasiswa dan elemen reformis secara masif menuntut pembubaran partai, menuding Beringin sebagai benteng dan biang kerok kebobrokan rezim Orde Baru.
Di tengah tekanan dahsyat itu, Akbar Tandjung bersama jajarannya melakukan langkah nekat: mendeklarasikan haluan baru dan mengubah wadah ini menjadi Partai Golkar.
Meski terus dicap berdosa atas masa lalu 32 tahun, Akbar tak patah arang. Tanpa tedeng aling-aling, ia blusukan melakukan konsolidasi hingga ke akar rumput di daerah-daerah. Hasilnya mengejutkan publik:
- Pemilu 1999: Partai Golkar berhasil keluar sebagai runner-up di bawah PDIP.
- Pemilu 2004: Partai Golkar merangsek naik dan kembali menjadi pemenang pemilu nasional.
Resiliensi ini menjadi DNA Golkar hingga kini: selalu bisa menjaga jarak aman dengan siapa pun Presiden dan Wakil Presiden yang berkuasa, sekaligus membuktikan ketahanan internal meski terus dihantam badai pergunjingan.
Memasuki usianya yang ke-62, nakhoda Golkar kini dipegang oleh Bahlil Lahadalia yang dilantik pada 21 Agustus 2024 lalu. Namun, perjalanan Bahlil tak sepi dari pergunjingan publik.
Bahlil kerap dituding sebagai figur titipan kekuatan luar, di mana publik menyangkutpautkannya dengan sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Isu bahwa Bahlil sekadar perpanjangan tangan Istana untuk mengamankan posisi politik pascajabatan terus berhembus kencang. Tak hanya itu, dinamika internal dan akademis sempat memanas saat status Doktoral Bahlil di Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) mendapat sorotan tajam hingga berujung penangguhan.
Dinamika dan guncangan politik pusat rupanya menjalar tajam hingga ke daerah, salah satunya di Sulawesi Barat (Sulbar).
Tokoh senior Golkar Sulbar, Haji Aras Tammauni, sebenarnya menorehkan prestasi impresif pada Pemilu 2024. Ia sukses membawa Golkar mengangkangi perolehan kursi Partai Demokrat di DPRD Provinsi Sulbar dan memenangi Pilkada di 4 kabupaten. Namun, keberhasilan lokal itu tak cukup membentenginya. Kegagalan Golkar mengirimkan 1 kursi pun ke DPR RI (Senayan) menjadi anomali fatal di mata elite pusat. Akibatnya, Aras didepak dari kursi Ketua DPD Golkar Sulbar.
Sebagai gantinya, elite pusat menunjuk Syamsul Mahmud (Assul), Bupati Polewali Mandar saat ini, untuk mengemban misi besar mengorkestrasi strategi partai menuju Pemilu 2029.
Langkah ini dinilai sebagai perjudian politik yang sangat berani:
1. Potensi Pemilih: Wilayah Polewali Mandar yang dipimpin Assul memang memiliki basis pemilih terbanyak di Sulawesi Barat.
2. Jejak Rekam: Assul belum teruji penuh dalam politik elektoral skala besar, selain keberhasilannya menjuarai Pilkada dua tahun lalu.
3. Gaya Komunikasi: Karakter Assul yang dikenal irit bicara, “kurang cakap” dalam pergaulan publik, serta cenderung menghindari komunikasi langsung dengan awak media (insan pers) menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi pilar demokrasi.
“Apakah kacamata buram yang selalu dipakai Assul adalah cara untuk membuat realitas tampak benderang, atau sekadar cara halus menghindari tatapan rakyatnya? Wallahu’alam.”
Meskipun diwarnai riak kontroversi dari pusat hingga daerah, perayaan HUT ke-62 Partai Golkar tetap disambut meriah dan penuh optimisme oleh para kader di seluruh pelosok negeri. Di tengah romantika sejarah dan tantangan zaman, Partai Golkar kembali diuji: apakah ia mampu bertahan sebagai ‘mesin politik abadi‘, atau justru tergilas oleh perjudian strateginya sendiri?
Selamat Hari Ulang Tahun ke-62, Partai Golkar!
(Oleh: Sarman Sahuding)
