Top 5 This Week

Related Posts

Tim 6 Ekspedisi Patriot Optimalkan Lahan Marginal untuk Pertanian Berkelanjutan di Bomberay–Tomage

FAKFAK, PAPUA BARAT. Redaksi.co – Tim 6 Ekspedisi Patriot melaksanakan observasi tanah dan edukasi pertanian di kawasan Transmigrasi Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada 6 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas petani dan masyarakat dalam mengelola lahan secara tepat guna, produktif, dan berkelanjutan melalui pengenalan karakteristik tanah, teknologi pengelolaan kesuburan, serta pemanfaatan input pertanian berbasis proses kimia dan biologis.

Kegiatan tersebut melibatkan Dr. Mega Kartika Hermawan, S.P., M.Agr., Head of Research and Development (R&D) PT Agritek Tani Indonesia, bersama Tim 6 Ekspedisi Patriot. Rangkaian kegiatan meliputi observasi lahan, sosialisasi teknologi peningkatan kesuburan tanah, pengenalan asam humat dan pupuk hayati, serta pembelajaran praktik bersama masyarakat, anggota Yonif TP 808/MM, dan siswa serta guru Jurusan Pertanian SMK Negeri 2 Fakfak.

Secara umum, kegiatan ini berfokus pada tiga hal utama, yakni mengenali karakteristik dan kendala tanah setempat, memperkenalkan alternatif teknologi pengelolaan tanah, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih dan mengevaluasi penggunaan input pertanian sesuai kebutuhan lahan.

Observasi Tanah sebagai Dasar Pengembangan Pertanian

Dalam kegiatan lapangan, tim melakukan pengamatan profil tanah di sejumlah lokasi, termasuk kawasan perbatasan Bomberay–Tomage, permukiman transmigrasi di sekitar sungai, serta lahan pertanian Yonif TP 808/MM.

Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan warna, tekstur, struktur, konsistensi, dan tingkat keasaman atau pH tanah. Langkah ini penting untuk memahami kondisi aktual lahan sebelum menentukan strategi budidaya maupun perlakuan yang diperlukan.

Hasil pengamatan awal menunjukkan adanya variasi sifat tanah, terutama antara lapisan permukaan dan lapisan bawah. Pada beberapa profil tanah, lapisan bawah memiliki tekstur liat, konsistensi relatif teguh hingga sangat teguh, serta tingkat keasaman yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan akar, pergerakan air, dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Karena itu, setiap lahan memerlukan pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan karakteristiknya.

Tim juga menemukan tanaman jagung dengan pertumbuhan relatif pendek dan daun berwarna ungu. Gejala tersebut dapat mengindikasikan kemungkinan keterbatasan ketersediaan unsur fosfor. Namun, diperlukan analisis tanah dan, jika diperlukan, jaringan tanaman untuk memastikan penyebabnya.

Temuan awal ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dalam pengembangan pertanian. Pengamatan visual dapat menjadi dasar identifikasi awal, sedangkan penentuan kebutuhan pupuk dan perbaikan tanah perlu didukung analisis yang lebih komprehensif.

Kenalkan Asam Humat dan Pupuk Hayati

Selain mengamati karakteristik tanah, Tim 6 Ekspedisi Patriot memperkenalkan alternatif teknologi pengelolaan kesuburan melalui pemanfaatan asam humat dan pupuk hayati. Produk yang diperkenalkan merupakan produk PT Agritek Tani Indonesia yang diformulasikan atau dikembangkan oleh Dr. Mega Kartika Hermawan.

Asam humat merupakan kelompok senyawa organik yang dapat berinteraksi dengan mineral tanah dan unsur hara. Penggunaannya berpotensi membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung ketersediaan unsur hara, bergantung pada karakteristik tanah, formulasi produk, serta cara aplikasinya.

Sementara itu, pupuk hayati memanfaatkan mikroorganisme hidup yang berperan dalam proses biologis penyediaan dan pemanfaatan unsur hara. Mikroorganisme tertentu, misalnya, dapat membantu melarutkan fosfor, menambat nitrogen, atau menguraikan bahan organik.

Kedua teknologi tersebut diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat dipelajari dan diuji untuk mendukung pengelolaan lahan pertanian. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada jenis produk, dosis penggunaan, kondisi lingkungan, serta kesesuaiannya dengan karakteristik tanah setempat.

Dalam demonstrasi awal, tim juga memperlihatkan perubahan pH pada sampel tanah setelah pemberian asam humat. Demonstrasi tersebut menjadi sarana pembelajaran mengenai interaksi bahan tambahan dengan sifat kimia tanah. Untuk memastikan besarnya pengaruh dan konsistensi hasil, diperlukan pengujian terkontrol pada berbagai kondisi lahan.

Sosialisasi Ameliorasi dan Pengelolaan Zona Perakaran

Di lahan pertanian Yonif TP 808/MM, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi metode ameliorasi dan teknik caping atau penghelm-an, yakni pendekatan pembentukan media tanam untuk mendukung kondisi zona perakaran.

Pendekatan tersebut diperkenalkan sebagai pelengkap praktik budidaya yang telah dilakukan masyarakat, terutama pada lahan yang memiliki kendala fisik maupun kimia. Pengelolaan media tanam, bahan organik, air, dan ketersediaan unsur hara menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih sesuai bagi tanaman.

Penerapan metode tersebut perlu dievaluasi melalui demonstrasi plot untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, kebutuhan air, ketersediaan unsur hara, serta biaya penerapan. Dengan demikian, teknologi yang diperkenalkan dapat dinilai berdasarkan hasil pengujian di lapangan.

SMK Negeri 2 Fakfak Jadi Ruang Pembelajaran Pertanian

Rangkaian kegiatan juga melibatkan siswa dan guru Jurusan Pertanian SMK Negeri 2 Fakfak. Melalui pembelajaran praktik, peserta diajak menghubungkan pengetahuan teoritis dengan keterampilan lapangan sekaligus mengenal peluang pengembangan kompetensi dan kewirausahaan di sektor pertanian.

Peserta diperkenalkan pada sejumlah peralatan pengamatan tanah, antara lain bor tanah Belgi, pH meter, dan Munsell Soil Color Chart. Melalui praktik tersebut, siswa mempelajari cara mengenali lapisan tanah, mengamati tekstur dan struktur, membaca warna tanah, serta memahami hubungan karakteristik tanah dengan pertumbuhan tanaman.

Materi pembelajaran turut mencakup pengenalan mikrobiologi pertanian, asam humat, pupuk hayati, serta prinsip pembuatan konsentrat soil buffer dalam skala kecil. Peserta memperoleh gambaran mengenai peran bahan organik dan mikroorganisme dalam pengelolaan zona perakaran, termasuk pentingnya menjaga mutu, keamanan, dan konsistensi produk.

Selain aspek budidaya, kegiatan ini memperluas wawasan siswa mengenai peluang profesi dan usaha di bidang pertanian. Peluang tersebut antara lain jasa analisis tanah, pengembangan input pertanian, pengolahan bahan organik, pengujian mutu produk, hingga layanan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan.

Tim juga memperkenalkan prinsip pengendalian hama secara alami, termasuk penggunaan feromon seks untuk mendukung pemantauan populasi hama ulat grayak tentara (Spodoptera frugiperda). Materi pengendalian hama dan penyakit tanaman turut disampaikan oleh Dr. Yani Maharani, S.P., M.Agr., selaku Ketua Tim 6 Ekspedisi Patriot.

Melalui pembelajaran tersebut, pertanian diperkenalkan bukan sekadar sebagai kegiatan produksi, melainkan juga sebagai bidang yang membutuhkan kompetensi ilmiah, keterampilan teknis, inovasi, dan kemampuan mengembangkan usaha sesuai kebutuhan wilayah.

Dorong Kemandirian Petani melalui Pengetahuan dan Pengujian

Salah satu pesan utama dalam kegiatan ini adalah pentingnya kemampuan masyarakat untuk memahami, memilih, dan mengevaluasi teknologi pertanian secara bertanggung jawab. Petani tidak hanya membutuhkan input produksi, tetapi juga pengetahuan mengenai kondisi tanah, kebutuhan tanaman, mutu produk, serta tata cara penggunaan yang tepat.

Dalam kegiatan di SMK Negeri 2 Fakfak, peserta juga mendapatkan pengenalan mengenai cara membaca label produk input pertanian, memahami komposisi dan dosis penggunaan, serta memeriksa informasi produsen dan ketentuan perizinan yang relevan.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kecermatan masyarakat dalam menilai produk yang beredar, termasuk produk bantuan pemerintah. Penggunaan input pertanian perlu didasarkan pada informasi yang jelas, mutu yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kesesuaian dengan kebutuhan lahan.

Ke depan, observasi lanjutan dan analisis laboratorium menjadi langkah penting untuk memastikan karakteristik tanah di kawasan Bomberay–Tomage. Parameter yang perlu diperiksa antara lain pH, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, karbon organik, aluminium dapat ditukar, fosfor tersedia, kalium, serta parameter lain yang relevan.

Hasil analisis tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pengelolaan bahan organik, pengapuran sesuai kebutuhan tanah, pemupukan berimbang, serta pengujian penggunaan asam humat, pupuk hayati, dan metode ameliorasi lainnya.

Hubungkan Ilmu Pengetahuan dengan Kebutuhan Wilayah

Kegiatan Tim 6 Ekspedisi Patriot di Bomberay–Tomage menunjukkan pentingnya keterhubungan antara observasi ilmiah, pengalaman petani, pendidikan vokasi, dan pengujian teknologi dalam mendukung pertanian berkelanjutan.

Bagi masyarakat dan petani, kegiatan ini membuka ruang untuk memahami kondisi tanah serta alternatif pengelolaannya. Bagi Kompi Pertanian Yonif TP 808/MM, pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mendukung pendampingan masyarakat sekitar dalam pengembangan pertanian. Sementara itu, bagi siswa SMK Negeri 2 Fakfak, kegiatan tersebut memperluas kesempatan belajar secara langsung mengenai ilmu tanah, mikrobiologi pertanian, pengendalian hama, mutu produk, dan kewirausahaan.

Pendekatan ini diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal. Berbagai teknologi yang diperkenalkan tetap perlu dievaluasi melalui pengujian terukur agar manfaat, biaya, dan kesesuaiannya dengan karakteristik lahan dapat diketahui secara objektif.

Pada akhirnya, pengembangan pertanian di Bomberay–Tomage tidak cukup hanya dengan menambah input produksi. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemahaman terhadap karakteristik tanah, dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan data merupakan bagian penting dalam mendorong pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Mengenali tanah menjadi langkah awal. Memahami proses kimia dan biologisnya membuka pilihan teknologi. Menguji hasilnya di lapangan menjadi dasar untuk membangun pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan

Popular Articles