Top 5 This Week

Related Posts

Joko Saputra Soroti Fenomena “Pelet Modern” Publik Agar Tak Mengaitkan Kasus Selebriti dengan Hal Mistis

Jakarta, – Perbincangan mengenai kehidupan pribadi sejumlah figur publik kembali menjadi perhatian masyarakat setelah beberapa kasus yang melibatkan selebriti ramai diperbincangkan. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, tidak sedikit warganet yang mengaitkan berbagai dinamika hubungan dengan dugaan praktik supranatural. Menanggapi fenomena tersebut, praktisi spiritual Joko Saputra mengajak masyarakat melihat persoalan secara lebih rasional sekaligus terbuka terhadap berbagai sudut pandang.

Menurut Joko, istilah “pelet” selama ini sering dipahami sebagai ilmu yang bertujuan memengaruhi hati atau perasaan seseorang melalui cara-cara gaib. Namun, ia menilai perkembangan zaman membuat istilah tersebut mengalami pergeseran makna. Saat ini, sebagian orang mulai menggunakan istilah “pelet modern” untuk menggambarkan kemampuan memengaruhi orang lain melalui pendekatan psikologis, komunikasi, maupun pembentukan citra diri.

“Yang saya maksud pelet modern bukan semata-mata ritual mistis. Ada banyak cara seseorang bisa membuat orang lain merasa nyaman, percaya, atau memiliki ketertarikan yang kuat. Dalam ilmu komunikasi dan psikologi, hal seperti itu juga dipelajari,” ujarnya dalam wawancara daring, Selasa, 14 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan membangun kedekatan emosional dapat muncul dari berbagai faktor, mulai dari cara berbicara, gestur, kepercayaan diri, perhatian yang diberikan, hingga kemampuan memahami karakter lawan bicara. Menurutnya, semua itu merupakan bagian dari dinamika hubungan antarmanusia yang tidak selalu berkaitan dengan unsur supranatural.

Karena itu, Joko mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa setiap hubungan yang terlihat tidak biasa atau setiap persoalan rumah tangga yang sedang viral pasti dipengaruhi ilmu tertentu.

“Sering kali ketika ada kasus yang menjadi sorotan, muncul komentar bahwa salah satu pihak memakai pelet. Padahal belum tentu demikian. Bisa saja itu murni faktor psikologis, kedekatan emosional, atau keputusan pribadi masing-masing,” katanya.

Joko juga menilai media sosial memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Informasi yang belum terverifikasi sering kali berkembang menjadi berbagai spekulasi, bahkan bercampur dengan narasi supranatural yang sulit dibuktikan.

Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri membedakan antara keyakinan pribadi, opini, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih jika sebuah perkara masih berada dalam proses hukum, semua pihak tetap memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil sesuai asas praduga tak bersalah.

Dalam pandangan Joko, istilah “pelet modern” justru dapat dijadikan bahan edukasi mengenai pentingnya memahami teknik persuasi dan pengaruh sosial. Ia mengingatkan bahwa tidak semua bentuk pengaruh bersifat negatif. Banyak orang memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk membangun relasi yang sehat, memotivasi orang lain, atau meningkatkan kepercayaan diri.

Sebaliknya, pengaruh dapat menjadi tidak sehat apabila digunakan untuk memanipulasi emosi, menipu, atau mengendalikan seseorang demi kepentingan pribadi. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu maupun informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Hubungan yang sehat dibangun atas dasar kejujuran, saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Jangan sampai kita lebih percaya pada asumsi daripada fakta yang ada,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Joko berharap masyarakat dapat menyikapi berbagai isu yang berkembang dengan kepala dingin. Menurutnya, peristiwa yang melibatkan publik figur sebaiknya dijadikan pelajaran untuk meningkatkan literasi informasi, bukan menjadi ruang untuk menyebarkan tuduhan tanpa dasar.

“Kalau ingin membahas spiritualitas, lakukan dalam konteks edukasi. Jangan menjadikan istilah pelet sebagai cap yang langsung diarahkan kepada seseorang. Lebih baik kita belajar memahami perilaku manusia secara utuh, baik dari sisi psikologi, komunikasi, maupun keyakinan yang berkembang di masyarakat,” tutup Joko.

Popular Articles