Ady Terus Dampingi Korban Kebakaran Ponpes, Dugaan Bullying Kembali Disorot
Redaksi.co | Media Nasional Investigasi
Peristiwa kebakaran yang merenggut nyawa seorang santri dan menyebabkan dua santri lainnya mengalami luka bakar berat hingga cacat permanen kembali menjadi sorotan publik. Di tengah perjuangan para korban menjalani pengobatan, seorang konten kreator bernama Ady terus menunjukkan kepeduliannya dengan mendampingi serta mengantar jemput korban untuk menjalani kontrol medis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Redaksi.co dari narasumber, tragedi tersebut diduga berawal dari aksi perundungan (bullying) yang disebut telah berlangsung cukup lama. Korban diduga kerap menjadi sasaran intimidasi oleh seorang kakak kelas berinisial R.

Narasumber menyebutkan, sebelum kejadian korban sempat melaporkan dugaan perundungan tersebut kepada pengasuh pondok pesantren. Setelah laporan itu diketahui, terduga pelaku disebut sempat mendapat teguran. Namun, sejak saat itu pelaku diduga menyimpan rasa tidak senang kepada korban.
Bahkan, sekitar tiga hari sebelum peristiwa kebakaran terjadi, pelaku diduga sempat mengancam akan membakar korban.
Pada hari kejadian, korban bersama beberapa temannya berada di sebuah gudang kosong di lingkungan pondok pesantren. Tidak lama kemudian, terduga pelaku datang dan diduga memerintahkan salah seorang korban yang kemudian meninggal dunia untuk membeli bensin. Korban disebut menuruti perintah tersebut karena takut mendapat kekerasan.
Setelah bensin dibeli, bahan bakar itu diduga dituangkan ke dalam wadah plastik sebelum api dinyalakan. Kobaran api kemudian dengan cepat membesar akibat tumpahan bensin yang menyebar di dalam ruangan.
Akibatnya, tiga santri terjebak di dalam gudang. Pintu disebut sulit dibuka sehingga mereka tidak dapat segera menyelamatkan diri.
Dalam kondisi putus asa, ketiga korban dikabarkan sempat saling berpelukan karena mengira tidak akan mampu keluar dari kobaran api. Namun takdir berkata lain. Dua korban berhasil diselamatkan meski mengalami luka bakar yang sangat serius, sementara satu korban bernama Sabirin meninggal dunia.
Dua korban selamat, yakni Andre dan Davin, kini masih menjalani proses pengobatan dan disebut mengalami cacat permanen akibat luka bakar yang diderita.
Di tengah perjuangan kedua korban tersebut, Ady terus memberikan pendampingan dengan mengantar dan menjemput mereka setiap kali menjalani kontrol ke rumah sakit.
Kasus ini diharapkan menjadi perhatian seluruh pihak agar dugaan praktik perundungan di lingkungan pendidikan dapat dicegah sejak dini. Selain proses hukum yang berjalan sesuai ketentuan, pendampingan bagi korban juga dinilai penting agar mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan keterangan narasumber yang diterima Redaksi.co. Seluruh dugaan terkait peristiwa tersebut masih memerlukan pembuktian melalui proses penyelidikan dan penyidikan oleh aparat penegak hukum. Asas praduga tak bersalah tetap dikedepankan hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Sumber: Media Nasional Investigasi – Redaksi.co
Jurnalis: Suhaili
