Redaksi.co, Jakarta | PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) mencatat pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang tahun buku terakhir dengan pendapatan bersih mencapai Rp325,44 miliar atau naik 21,49 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pencapaian tersebut disampaikan manajemen dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Public Expose 2026.
Direktur Utama SMIL, Hadi Suhermin, mengatakan pertumbuhan industri manufaktur, logistik, pergudangan, dan pertambangan masih menjadi peluang bagi perseroan untuk memperkuat kinerja usaha.
“Kami terus memperkuat armada dan meningkatkan kualitas layanan untuk menjawab kebutuhan pelanggan di berbagai sektor industri,” ujar Hadi Suhermin.
Selain peningkatan pendapatan, SMIL juga membukukan laba kotor sebesar Rp146,9 miliar atau tumbuh 70 persen. Adapun laba bersih tercatat Rp77,9 miliar, meningkat 37,84 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut turut mendorong laba per saham (EPS) menjadi Rp8,86 per lembar saham.
Perseroan yang bergerak di bidang penyewaan forklift dan peralatan material handling itu saat ini mengoperasikan lebih dari 3.000 unit alat dengan kapasitas 1,5 ton hingga 30 ton. Operasional perusahaan didukung 53 kendaraan angkutan serta fasilitas workshop seluas sekitar 5.000 meter persegi di kawasan Gemalapik, Cikarang, Jawa Barat.
Manajemen mengungkapkan salah satu fokus pengembangan usaha ke depan adalah memperluas penetrasi ke sektor pertambangan. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan berulang (recurring income) sekaligus mendukung target pendapatan hingga Rp600 miliar dalam beberapa tahun mendatang.
Dari sisi fundamental, SMIL mencatat total ekuitas sebesar Rp748,43 miliar atau meningkat 3,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan ekspansi usaha dan pengembangan layanan material handling di berbagai sektor industri.
SMIL merupakan perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada Mei 2023. Berdasarkan data kepemilikan saham per Oktober 2025, Hadi Suhermin menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 50,54 persen saham, disusul Lucia Irawaty Lie sebesar 24 persen dan Winston Suhermin sebesar 8 persen.



