Top 5 This Week

Related Posts

Miris! Sekolah Tertimbun Longsor, Murid SD di Pedalaman Mamasa Bersihkan Lumpur Demi Bisa Belajar

Redaksi.co MAMASA : Nasib pilu dialami puluhan siswa SDK Salu Kaiyang di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa. Saat anak-anak lain dapat belajar dengan tenang di ruang kelas yang aman, para siswa di sekolah pedalaman ini justru harus berjibaku dengan lumpur dan timbunan tanah longsor yang menerjang lingkungan sekolah mereka.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Salu Kaiyang pada Senin (2/6/2026) menyebabkan tebing di belakang sekolah ambruk. Material longsoran menerobos masuk ke area sekolah, menimbun sebagian lingkungan belajar dan meninggalkan ancaman serius bagi keselamatan siswa maupun guru.

Pemandangan yang terlihat di sekolah itu begitu menyayat hati. Sejak pagi, anak-anak yang seharusnya memegang buku pelajaran dan menghafal materi di kelas terpaksa memegang sekop, cangkul, dan ember. Dengan pakaian sekolah yang berlumur tanah, mereka bergotong royong membersihkan lumpur yang memenuhi halaman dan ruang belajar agar proses pendidikan dapat kembali berjalan.

Tidak ada alat berat. Tidak ada petugas yang datang membantu. Hanya para guru dan siswa yang berusaha menyelamatkan sekolah mereka dengan tenaga seadanya.

Di tengah kondisi yang serba terbatas, semangat belajar para siswa tetap bertahan. Namun di balik senyum dan keteguhan mereka, tersimpan ketakutan yang sulit disembunyikan. Tebing yang longsor masih berdiri rapuh di belakang sekolah dan sewaktu-waktu dapat kembali runtuh ketika hujan turun.

Guru SDK Salu Kaiyang, Amad S.Pd, mengaku prihatin melihat kondisi yang dialami anak-anak didiknya. Menurutnya, upaya pembersihan yang dilakukan saat ini hanyalah langkah darurat agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti.

“Kami berupaya membersihkan lingkungan sekolah secara bersama-sama agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan baik. Namun, kami berharap ada perhatian dari pemerintah terkait kondisi sekolah kami, khususnya penanganan area belakang sekolah yang mengalami longsor,” ujarnya.

Kekhawatiran kini menyelimuti para guru dan orang tua murid. Setiap kali awan gelap mulai berkumpul dan hujan turun, rasa cemas kembali muncul. Mereka takut longsor susulan terjadi saat anak-anak sedang belajar di dalam kelas.

Hingga kini, warga hanya menunggu perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Mereka berharap bantuan tidak datang setelah bencana yang lebih besar terjadi.

Di pelosok Mamasa, anak-anak SDK Salu Kaiyang terus berjuang mempertahankan hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Mereka tidak meminta gedung megah atau fasilitas mewah. Mereka hanya ingin belajar dengan aman, tanpa dihantui ancaman longsor yang setiap saat bisa merenggut rasa nyaman bahkan keselamatan mereka.

Di tengah keterbatasan itu, pertanyaan besar pun muncul: sampai kapan anak-anak ini harus menghadapi bahaya sendirian sebelum perhatian benar-benar datang? (ZUL)

Popular Articles