Top 5 This Week

Related Posts

Waduh.! : Aktivis Endus Upaya “Cuci Tangan”, Sidak SPPG Aralle Hanya Formalitas, Jadi Penenang Opini!

Redaksi.co MAMASA : Kasus menjijikkan ditemukannya ulat dalam paket program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Aralle kini memasuki babak baru yang lebih panas. Sejumlah aktivis mengecam keras pola penanganan pihak berwenang yang dianggap hanya “main aman” dan berupaya menutupi borok utama di balik layar dapur SPPG Aralle.

Mereka menegaskan: Publik tidak butuh drama inspeksi mendadak (sidak) yang terlihat rapi di permukaan, tapi butuh jawaban siapa yang bertanggung jawab atas ulat yang nyaris masuk ke perut anak-anak sekolah!

Para aktivis menilai pernyataan pemerintah yang mengklaim dapur sudah sesuai standar pasca-sidak adalah narasi normatif yang menghina akal sehat. Jika prosedur dijalankan dengan benar, ulat tidak akan mungkin “berparade” di meja makan siswa.

Ada sebab, ada akibat. Ulat itu tidak muncul dari ruang hampa. Itu adalah bukti nyata kelalaian fatal, kontrol mutu yang sampah, dan kegagalan total dalam rantai distribusi!” tegas Hidayatullah salah satu aktivis dengan nada bicara tinggi.

Fakta bahwa makanan busuk itu sampai ke tangan siswa membuktikan adanya celah sistemik yang sengaja dibiarkan atau diabaikan. Investigasi pasca-kejadian yang hanya menunjukkan kondisi “baik-baik saja” dianggap sebagai upaya meredam keresahan publik tanpa menyentuh substansi pelanggaran.

Aktivis menuntut tindakan radikal terhadap pengelola SPPG Aralle. Mereka mendesak agar hasil investigasi dibuka seluas-luasnya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Program Makan Bergizi Gratis adalah hak generasi masa depan, bukan ladang uji coba apalagi tempat oknum bermain-main dengan nyawa anak-anak.

Poin-poin tuntutan keras aktivis meliputi:

* Audit Total Rantai Pasokan: Siapa penyedia bahan bakunya dan bagaimana proses seleksinya?

* Sanksi Administratif & Pidana: Jika terbukti lalai, pengelola harus dicopot dan diproses secara hukum atas pengabaian keselamatan pangan.

* Evaluasi Terbuka: Jangan jadikan Satgas atau tim pengawas hanya sebagai “pemadam kebakaran” yang tugasnya sekadar menenangkan opini tanpa memberikan solusi sistemis.

* Kejahatan Terhadap Generasi: Pembiaran Adalah Dosa Besar.

Jangan sampai sidak hanya menjadi alat kosmetik untuk meredam kemarahan warga. Ini soal nyawa anak-anak kita!” ujar aktivis tersebut.

Ketegasan pemerintah daerah sedang diuji. Jika kasus makanan berulat ini hanya berakhir dengan teguran lisan atau pernyataan “semuanya sudah standar“, maka kepercayaan publik terhadap program nasional ini dipastikan akan runtuh seketika.

Publik kini menunggu: Apakah pemerintah berani menyikat oknum di balik dapur kotor Aralle, atau justru ikut larut dalam narasi normatif untuk melindungi pihak-pihak tertentu? (ZUL)

Mamasa butuh jawaban, bukan sekadar kunjungan!

Popular Articles