Redaksi.co MAMASA : Harapan yang selama ini redup, kini benar-benar padam. Warga Dusun Sambaho, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, harus menerima kenyataan pahit, satu-satunya sumber listrik yang mereka miliki hancur diterjang longsor. Kini, mereka hidup dalam gelap total.
Sudah lebih dari tiga dekade, sejak 1993, dusun ini tak pernah merasakan aliran listrik dari PT PLN (Persero). Dalam keterbatasan, warga hanya mengandalkan turbin sederhana yang dibangun secara swadaya. Namun pekan lalu, bencana alam merenggut satu-satunya cahaya yang tersisa.
“Turbin sudah tidak bisa dipakai sama sekali. Hancur kena longsor minggu lalu,” ujar Kamaruddin (50), dengan suara yang menggambarkan kelelahan panjang.
Turbin itu bukan sekadar mesin, ia adalah harapan. Menerangi malam, membantu anak-anak belajar, dan menjadi simbol bahwa mereka masih terhubung dengan dunia luar. Kini, semuanya hilang.
Di Sambaho Satu dan Sambaho Dua, yang dihuni puluhan kepala keluarga, kegelapan menjadi keseharian baru. Zainal (50) hanya bisa pasrah. “Sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya singkat.
Sebagian kecil warga mencoba bertahan dengan lampu dari aki motor, tetapi hanya segelintir rumah yang mampu. Selebihnya kembali ke cara lama, lampu minyak dan lilin, yang redup dan penuh risiko.

Ironisnya, turbin yang kini hancur itu dibangun sejak 2008 menggunakan dana desa, bahkan sempat ditambah satu unit pada 2024. Namun tanpa perawatan memadai, fasilitas tersebut rapuh menghadapi waktu dan alam. Lokasinya yang terpencil, sekitar dua kilometer dari permukiman, membuat perbaikan semakin sulit.
Di tengah keterbatasan, warga tak hanya kehilangan listrik. Jalan rusak, fasilitas MCK yang tidak layak, hingga minimnya akses dasar lainnya memperparah keadaan. Banyak yang akhirnya memilih pergi, meninggalkan kampung halaman demi kehidupan yang lebih manusiawi.
Sementara itu, pihak PLN menyatakan telah memasukkan Sambaho dalam rencana pembangunan jaringan listrik desa. Namun, harapan itu kembali tersendat oleh persoalan klasik, perizinan, terutama karena jalur jaringan harus melintasi kawasan hutan.
Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) pun belum bisa menjawab penderitaan warga. Tanpa jaringan listrik yang tersedia, bantuan tersebut hanya menjadi janji di atas kertas.
Di tempat lain, listrik mungkin hal biasa. Namun bagi warga Sambaho, itu adalah mimpi yang tak kunjung tiba.
“Kami hanya ingin merasakan listrik seperti daerah lain,” kata Kamaruddin lirih.
Kini, di tengah sunyi malam yang pekat, Dusun Sambaho bukan hanya gelap karena ketiadaan cahaya, tetapi juga karena harapan yang terus tertunda. (ZUL)

