Fakfak, Redaksi.co – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia pada Senin (23/03/2026) dimanfaatkan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Fakfak untuk menyuarakan sikap kritis terhadap tantangan kedaulatan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik global, serta potensi dampaknya terhadap wilayah Tanah Papua.
Ketua GMNI Fakfak, Cristina Elisabeth Wouw, menegaskan bahwa situasi global saat ini tidak bisa dipisahkan dari kondisi pangan di daerah, termasuk di Papua. Ia menyoroti eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berpotensi mengganggu stabilitas energi dan rantai pasok global.
Menurutnya, potensi terganggunya jalur strategis seperti Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak dunia. Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah meningkatnya biaya transportasi dan distribusi bahan pokok, yang akan terasa lebih berat di wilayah timur Indonesia, termasuk Tanah Papua, yang selama ini masih sangat bergantung pada distribusi logistik dari luar daerah.
“Papua memiliki tantangan geografis tersendiri. Ketika biaya distribusi naik akibat gejolak global, maka harga pangan di Papua akan jauh lebih terdampak dibandingkan daerah lain di Indonesia,” ujar Cristina.
Ia menambahkan bahwa persoalan kedaulatan pangan tidak hanya soal produksi nasional, tetapi juga menyangkut keadilan distribusi dan akses pangan di daerah-daerah terpencil.
Sementara itu, Sekretaris GMNI Fakfak, Evenus Monce Iba, menekankan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah timur Indonesia.
Menurutnya, Tanah Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan lokal, namun belum dikelola secara optimal. Ia mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan produksi pangan berbasis lokal di Papua guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.
“Kita harus mulai membangun kemandirian pangan di Papua. Jangan sampai masyarakat terus bergantung pada distribusi dari luar yang sangat rentan terhadap gangguan, baik karena faktor geografis maupun geopolitik,” tegas Evenus.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur pertanian, akses pupuk, serta pendampingan teknologi bagi petani lokal agar mampu meningkatkan produktivitas.
Dalam momentum HUT ke-72 ini, GMNI Fakfak menyerukan agar pemerintah tidak hanya fokus pada skala nasional, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah seperti Papua yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap krisis pangan.
“Persatuan bangsa harus tetap dijaga, tetapi keadilan pembangunan juga harus diwujudkan. Tanpa itu, kedaulatan pangan hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi nyata di daerah,” tutupnya.
Peringatan HUT GMNI ke-72 ini pun menjadi refleksi penting bahwa kedaulatan pangan tidak hanya menyangkut ketersediaan, tetapi juga akses yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk di Tanah Papua.







