Perisai Semesta : Persatuan Nasional, Kemandirian dan Doa Fondasi Utama Hadapi Badai Global

0
11

Oleh : Aam Abdul Salam, Sekjen PPJNA 98*

REDAKSI.CO || Menyimak apa yang disampaikan Bapak Sufmi Dasco, Persatuan Nasional dengan kompak dan solidnya masyarakat sipil merupakan fondasi penting dalam mendukung keberhasilan program Presiden Prabowo Subianto. Apalagi dihadapkan pada situasi sekarang ditengah Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja.

Gemuruh konflik di Timur Tengah antara poros AS-Israel melawan Iran bukan sekadar berita mancanegara di layar kaca; ia adalah alarm peringatan bagi dapur dan lampu di rumah-rumah kita. Bayang-bayang Perang Dunia III membawa ancaman nyata: krisis pangan, energi, dan guncangan ekonomi yang siap menerjang batas negara.

Namun, bagi Indonesia, ancaman bukanlah alasan untuk menyerah. Justru di tengah ketidakpastian ini, kita perlu memperkuat Persatuan Nasional Benteng Pertahanan Rakyat Semesta.

Tiga Pilar Antisipasi: Krisis Pangan, Krisis Energi dan Krisis Perekonomian

Menghadapi krisis global memerlukan langkah konkret yang dimulai dari unit terkecil: keluarga dan komunitas.

Kedaulatan Pangan: Saat rantai pasok global terputus, tanah kita adalah penyelamat. Memanfaatkan lahan pekarangan atau lahan kosong yang kita miliki untuk menanam kebutuhan pokok bukan lagi hobi, melainkan strategi bertahan hidup dalam situasi krisis untuk ketersediaan pangan.

Ketahanan Energi: Efisiensi menjadi kunci. Mengurangi ketergantungan pada sumber daya impor dan mulai melirik potensi energi lokal adalah langkah preventif agar roda ekonomi tetap berputar saat harga minyak dunia melambung.

Stabilitas Ekonomi: Memperkuat sirkulasi ekonomi domestik dengan mencintai produk lokal akan menjaga daya tahan pasar dalam negeri dari inflasi global yang gila-gilaan.

Persatuan Nasional : Senjata Terkuat Kita

Sejarah membuktikan bahwa Indonesia runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan saat fondasi persatuannya retak. Menghadapi ancaman serangan fisik maupun siber yang bertujuan menghancurkan kedaulatan, persatuan rakyat adalah benteng yang tak tertembus. Tak peduli seberapa canggih teknologi lawan, rakyat yang bersatu adalah kekuatan asimetris yang paling ditakuti.

Momentum Ramadan: Benteng Langit

Di atas segala upaya lahiriah, ada kekuatan yang melampaui logika militer dan ekonomi. Momentum Bulan Ramadan tahun ini hadir sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat “Benteng Langit”.

Allahummahfadz bilaadanaa Induunisiyaa minal fitani wal mihan, waj’alhaa baldatan thayyibatan wa rabbun ghafuur) “Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia dari segala fitnah dan cobaan, dan jadikanlah ia negeri yang baik (aman sentosa) dengan Rabb Yang Maha Pengampun.”

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momentum kolektif bagi jutaan rakyat Indonesia untuk bersimpuh. Di setiap sujud dan doa berbuka, terpanjat permohonan perlindungan kepada Allah SWT agar negeri ini dijauhkan dari marabahaya. Doa adalah senjata orang beriman—sebuah energi spiritual yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah hiruk-pukuk ancaman dunia.

Penutup

Krisis mungkin tak terelakkan, namun kehancuran bisa dicegah. Dengan perpaduan antara persiapan fisik yang matang, persatuan nasional yang solid, dan Doa mengetuk pintu langit di bulan suci, Indonesia akan tetap tegak berdiri. Kita tidak hanya sedang bertahan, kita sedang membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemenang, negeri Indonesia dibawah panji merah putih persatuan nasional akan selamat, kuat dan tampil memimpin ditengah konflik global, berperan mewujudkan perdamaian dunia.***

*Penulis : Pendiri Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen PPJNA 98, Presidium Korp Alumni HMI (KAHMI) Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi dan PWI Kab.Sukabumi.

Editor : Fikrie M