Harga Fuly Pala Tomandin Fakfak Tembus Rp 250 Ribu per Kg, Tertinggi di Tingkat Produsen.

0
56

Fakfak, Redaksi.co – Kabar menggembirakan datang dari sentra perkebunan pala di Fakfak. Harga fuly pala (bunga pala) varietas Tomandin kini menembus Rp 250.000 per kilogram, menjadi salah satu harga pembelian di tingkat produsen tertinggi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga ini menjadi sinyal kuat bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki daya saing dan permintaan tinggi di pasar. Komoditas tersebut saat ini diburu pembeli antar pulau hingga luar negeri yang beroperasi melalui kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Permintaan yang stabil membuat harga jualnya tetap kompetitif dan relatif lebih kokoh dibandingkan jenis pala dari sejumlah daerah lain.

Fuly pala dikenal sebagai bagian paling bernilai dari buah pala. Komoditas ini dimanfaatkan dalam industri rempah, makanan dan minuman, farmasi, hingga kosmetik. Saat harga mencapai titik premium, dampaknya langsung dirasakan petani—pendapatan meningkat, daya beli menguat, dan semangat menjaga kualitas produksi semakin tinggi.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, saat melakukan inspeksi ke sejumlah pedagang grosir antar pulau menjelaskan bahwa harga Rp 250.000 per kilogram menempatkan fuly Pala Tomandin Fakfak sebagai salah satu yang tertinggi di tingkat produsen saat ini.

Namun demikian, harga tersebut hanya dapat dicapai dengan persyaratan mutu tertentu. Fuly harus diperoleh dari pala tua atau matang petik dan dilepas dari bijinya dalam kondisi utuh tanpa menggunakan alat, sehingga kualitas fisik tetap terjaga.

Jika dibandingkan dengan sentra pala seperti Maluku Utara, Aceh Selatan, maupun sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, harga di daerah tersebut umumnya berada pada kisaran lebih rendah dan sangat bergantung pada volume produksi. Ketika pasokan melimpah, harga bahkan bisa turun di bawah Rp 200.000 per kilogram.

Lantas, mengapa harga Fakfak bisa lebih tinggi?
Pertama, kualitas dan ciri khas aroma. Fuly pala Fakfak dikenal memiliki warna merah cerah, serat utuh, serta aroma kuat dengan kandungan minyak atsiri yang baik. Karakter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli antar pulau maupun buyer luar negeri.

Kedua, ketersediaan yang terbatas. Fuly merupakan bagian bunga pala yang jumlahnya tidak sebanyak biji, sementara kebutuhan industri cukup tinggi. Kelangkaan alami ini membuat harga tetap berada pada level premium.

Ketiga, permintaan stabil dari luar daerah. Pedagang besar tetap bersedia membeli dengan harga tinggi karena kualitas pala Fakfak dinilai konsisten dan memiliki segmen pasar tersendiri.

Selain itu, tata kelola dan pengawasan mutu yang semakin baik turut memperkuat posisi tawar daerah. Produk yang dipasarkan kini lebih selektif melalui proses uji kualitas dan pengemasan rapi, sehingga kepercayaan pasar tetap terjaga.

“Kami sering mengedukasi pelaku usaha dan pekebun agar selalu menjaga mutu dan kualitas pala, menunggu waktu panen yang tepat, bahkan melalui perkiraan kalender musim panen dan musim tanam,” ujar Widhi.

Ia juga mengaku dihubungi sejumlah buyer dari luar daerah, khususnya yang beroperasi di Jakarta dan Surabaya, yang menanyakan langsung ketersediaan dan produktivitas fuly pala Fakfak. Para pembeli bahkan menyatakan kesiapannya mengikuti harga yang berlaku di tingkat perdagangan Fakfak selama kualitas terjamin.

Momentum harga tinggi ini, menurutnya, harus menjadi titik balik perubahan pola usaha petani pala. Ia mengajak para pekebun untuk tidak lagi menjual pala dalam kondisi mentah atau basah.
“Jangan lagi menjual pala dalam kondisi mentah. Nilai ekonominya sangat jauh berbeda. Jika petani mengolah dengan baik hingga kering dan berkualitas, maka harga yang diterima bisa lebih tinggi dan lebih bermakna bagi kesejahteraan keluarga,” tegasnya.

Penguatan pascapanen menjadi kunci hilirisasi komoditas pala di Fakfak. Mulai dari pemisahan biji dan fuly, proses pengeringan yang tepat, sortasi mutu, hingga pengemasan standar—seluruhnya menentukan nilai jual akhir. Dengan pengolahan yang benar, petani tidak lagi sekadar produsen bahan baku, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha bernilai tambah.

Dinas Perkebunan Fakfak, lanjutnya, siap mendukung melalui pendampingan teknis, peningkatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar petani mampu mandiri dalam pengolahan dan pemasaran.
“Kalau kita ingin Pala Tomandin Fakfak tetap berjaya, mendapatkan harga tinggi dan memberi manfaat besar, maka kuncinya ada pada mutu, cara panen yang tepat, dan keberanian petani untuk mengolah sendiri hasilnya,” pungkasnya