Jeritan Warga Sampaga di Bulan Suci, Harga Gas 3 Kg Tembus Rp50 Ribu, Siapa Bermain?

0
55

Redaksi.co MAMUJU : Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadhan 1447 H, warga Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, justru dihantui lonjakan harga gas elpiji 3 kilogram bersubsidi yang kian tak terkendali. Gas melon yang seharusnya menjadi penopang dapur masyarakat kecil, kini berubah menjadi beban yang mencekik.

Di sejumlah titik pengecer, harga elpiji 3 kg dilaporkan meroket hingga Rp45 ribu bahkan menembus Rp50 ribu per tabung. Angka ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Kenaikan tersebut sontak memicu keluhan dan kemarahan warga, terutama para ibu rumah tangga yang menjadi pihak paling terdampak.

“Setiap hari kami butuh gas untuk memasak sahur dan berbuka. Sekarang harganya mahal sekali, sulit juga dicari,” keluh seorang warga dengan nada kecewa.

Kelangkaan stok disebut mulai terasa sejak hari pertama Ramadhan. Pasokan di lapangan sangat terbatas, membuat warga harus berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lain demi mendapatkan satu tabung gas. Situasi ini menambah tekanan di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga selama bulan puasa.

Warga menduga ada persoalan serius dalam distribusi. Tak sedikit yang mencurigai kemungkinan adanya oknum yang bermain, bahkan menimbun untuk meraup keuntungan besar dari penderitaan masyarakat kecil.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Sampaga melalui Camat Muhammad Yusuf angkat bicara. Ia mengakui bahwa kelangkaan dan lonjakan harga elpiji 3 kg menjadi keluhan utama masyarakat saat ini.

Pemerintah kecamatan telah membentuk tim khusus untuk turun langsung melakukan pemantauan dan pengawasan ke pangkalan-pangkalan elpiji di wilayah Sampaga. Tim tersebut tengah mengumpulkan data guna memastikan penyebab kelangkaan, apakah akibat keterlambatan distribusi atau adanya pelanggaran oleh pihak tertentu.

“Hasil pemantauan akan segera kami laporkan secara resmi ke Dinas Perdagangan Kabupaten Mamuju dan instansi terkait,” ujar Muhammad Yusuf.

Pemkab juga akan mengusulkan pelaksanaan operasi pasar guna menstabilkan harga, serta meminta penambahan kuota distribusi selama Ramadhan apabila diperlukan. Tak hanya itu, pemerintah menegaskan akan memberikan sanksi tegas bagi pangkalan yang terbukti melanggar aturan distribusi.

Warga berharap langkah konkret segera diwujudkan, bukan sekadar janji. Mereka mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk turun tangan menertibkan harga di tingkat pengecer agar tidak semakin membebani masyarakat kecil.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan penuh berkah. Namun bagi warga Sampaga, krisis gas bersubsidi justru menjadi ujian berat yang menuntut ketegasan pemerintah dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil. (ZUL)