Redaksi.co, Jakarta – Sejarah panjang pergerakan etnis Muslim Tionghoa di Yogyakarta kembali diangkat ke ruang publik melalui bedah buku Muslim Tionghoa di Yogyakarta karya Sunano. Kegiatan ini digelar di Digra Coffee, Jalan Lebak Bulus II No. 21, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2).
Buku tersebut mengulas kiprah Muslim Tionghoa di Yogyakarta dari sisi ekonomi, politik, hingga tradisi sosial-budaya. Penulisnya, Sunano, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Bagin Indonesia Centre (YBIC), menyusun karya ini berdasarkan observasi langsung serta wawancara dengan para pelaku dan saksi sejarah.
“Buku ini disusun dari pertemuan dan dialog dengan mereka yang mengalami langsung dinamika sejarah tersebut. Harapannya, pembaca memperoleh gambaran yang lebih utuh dan berimbang,” ujar Sunano saat memaparkan isi bukunya.
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan tiga narasumber. Selain Sunano sebagai penulis, hadir pula Yusuf Blegur sebagai resensator. Aktivis yang juga Pembina YBIC tersebut dikenal sebagai anak asuh almarhum Bagin dan pernah menjadi presidium GMNI. Narasumber ketiga adalah Ustaz Amsar A. Dulmanan, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), yang turut memberikan perspektif akademis terhadap karya tersebut.
Acara dimoderatori oleh Mochamad Nuruddin, aktivis generasi Z sekaligus pendiri Rumah SDM. Diskusi berlangsung hangat dengan partisipasi peserta dari kalangan mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.
Menurut Ketua Umum YBIC, Murniati Ginting, kegiatan ini tidak sekadar membahas buku, tetapi juga menjadi ruang refleksi kebangsaan. “Acara ini diharapkan mampu menambah wawasan sejarah Indonesia, khususnya dalam memahami keberagaman, serta menjadi penguat toleransi demi persatuan Indonesia,” ujarnya.
Minat terhadap buku ini terbilang tinggi, terutama di kalangan akademisi dan mahasiswa tingkat akhir. Banyak yang menjadikannya sebagai referensi dalam penyusunan tugas akhir karena dinilai menawarkan sudut pandang baru mengenai sejarah Muslim Tionghoa di Yogyakarta.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ini juga menjadi sorotan. Panitia menyebut, antusiasme tersebut membuka peluang penyelenggaraan bedah buku lanjutan pada 2026. Selain itu, pada September mendatang, YBIC berencana memperingati ulang tahun Bagin yang dirangkai dengan peluncuran biografi beliau.
Melalui diskusi ini, pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa Muslim Tionghoa merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Mereka tidak ingin terus dipandang sebagai kelompok yang “diminoritaskan di antara minoritas”, melainkan sebagai elemen bangsa yang turut membangun negeri.







