Pemkab Fakfak Dorong Cetak Sawah 450 Hektare, Tahap Awal Dimulai 2026

0
89

FAKFAK, Redaksi.co – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya ketahanan pangan nasional melalui program swasembada pangan, khususnya untuk komoditas strategis seperti padi dan jagung. Arahan tersebut ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah hingga ke tingkat kabupaten, termasuk Pemerintah Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak, Zulkifly Laode Hilu, SP, MM, saat ditemui Redaksi.co, Selasa 20/01/2026.

Menurut Zulkifly, Pemerintah Kabupaten Fakfak terus mendorong Dinas Pertanian agar aktif melaksanakan program swasembada pangan secara berkelanjutan, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Target swasembada beras nasional ditetapkan pada periode 2025–2035, dan tahun 2025–2026 menjadi fase awal yang sangat menentukan.

“Untuk mendukung target tersebut, Fakfak mendapat alokasi program cetak sawah seluas 450 hektare dari pemerintah pusat. Program ini akan dilaksanakan secara bertahap, dan pada tahun 2026 direncanakan pencetakan sawah seluas 150 hektare yang difokuskan di wilayah Bomberai. Perencanaan teknisnya sudah disiapkan,” jelas Zulkifly.

Ia menambahkan, alokasi 450 hektare tersebut merupakan hasil lobi langsung Pemerintah Kabupaten Fakfak kepada Kementerian Pertanian. Pemerintah daerah menargetkan seluruh luasan cetak sawah dapat direalisasikan hingga tahun 2029, sehingga Fakfak mampu berkontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada pangan nasional.

Dalam waktu dekat, Tim Survey, Investigasi, dan Desain (SID) dari Manokwari dijadwalkan tiba di Fakfak pada hari Jumat untuk melakukan peninjauan lapangan di wilayah Bomberai. Selanjutnya, pada hari Senin akan digelar pertemuan khusus bersama Bupati dan Wakil Bupati Fakfak, serta Tim SID Provinsi Papua Barat guna memfinalisasi desain dan perencanaan teknis.

“Meski pusat pengembangan swasembada pangan Papua difokuskan di Merauke, Fakfak optimistis bisa menjadi daerah penyangga swasembada pangan, terutama jika target 450 hektare sawah bisa tercapai sebelum 2030,” ujarnya.

Zulkifly mengakui tantangan utama saat ini adalah keterbatasan sumber daya manusia petani, khususnya di wilayah Bomberay. Namun kondisi tersebut terbantu dengan kehadiran Batalyon Pangan yang ikut mendukung proses pencetakan sawah dan pengelolaan lahan pertanian.

Ke depan, Fakfak dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian padi. Bendungan yang dibangun sejak 2014–2015 di wilayah Bomberay diketahui mampu mengairi hingga 1.200 hektare lahan sawah.

“Dengan dukungan infrastruktur irigasi ini, kami optimistis Fakfak dapat menjadi daerah swasembada beras dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional,” tutup Zulkifly.