Jakarta,Redaksi.Co- Alas Roban di Batang, Jawa Tengah, selama ini dikenal bukan hanya sebagai jalur penghubung antarkota, tetapi juga ruang yang sarat cerita. Hutan lebat, kabut mendadak, dan rasa tidak nyaman yang kerap muncul membuat kawasan ini lekat dengan berbagai kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak pelintas mengaku pulang dengan perasaan serupa, meski mengalami kejadian yang berbeda.
Kondisi itu melahirkan beragam mitos dan “aturan tak tertulis” yang dipercaya harus dihormati. Sutradara Hadrah Daeng Ratu dalam press screening & press conference film di kawasan Kuningan Jakarta, Senin (5/1) menyebut Alas Roban memiliki latar kuat karena sejarah dan misterinya yang terus hidup di masyarakat. Ia menilai jalur ini dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Jawa, dengan banyak cerita pengendara yang mengalami kejadian ganjil, baik saat melintas maupun setelahnya.
Pengalaman kolektif tersebut menjadi dasar film “Alas Roban” yang dijadwalkan tayang pada 15 Januari 2026. Film ini merangkum berbagai larangan yang kerap dibicarakan, mulai dari menghindari perjalanan tengah malam, tidak singgah di warung pinggir jalan, mewaspadai spion, hingga tidak menanggapi suara atau bayangan di sekitar hutan.
Taskya Namya, pemeran Tika, menyoroti momen ketika tokohnya mulai curiga setelah menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, terutama saat Gendis mengajak bermain petak umpet dengan sikap yang terasa berbeda.
Film “Alas Roban” digarap oleh Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures, dengan Hadrah Daeng Ratu sebagai sutradara. Deretan pemainnya antara lain Michelle Ziudith, Rio Dewanto, Taskya Namya, Imelda Therinne, dan Fara Shakila.






