LUMAJANG, redaksi.co – Miris! Proyek pemeliharaan jaringan irigasi senilai Rp 5,1 miliar di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, baru saja rampung dikerjakan namun sudah ambrol. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa pekerjaan tersebut tidak dilakukan secara profesional dan terkesan asal-asalan (06/11/2025).
Proyek tersebut berada di Desa Tekung, Kecamatan Yosowilangun, di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi Jawa Timur, dan dilaksanakan oleh CV. Bumi Lestarindo. Pekerjaan itu tercatat dengan Nomor Kontrak 000.3.3/1.02.0021/1372/104.6.07/2025, dengan nilai kontrak mencapai Rp 5.136.873.577, bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2025, dan memiliki masa pelaksanaan 180 hari kalender.
Namun fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan pantauan media ini pada Minggu (2/11/2025), sejumlah titik pada plengsengan saluran irigasi tampak longsor dan runtuh ke aliran sungai. Kerusakan mencapai sekitar 25 meter dan terjadi tak lama setelah proyek dinyatakan selesai dikerjakan.
Kondisi itu sontak menuai kemarahan masyarakat yang menilai proyek bernilai miliaran rupiah tersebut tidak menunjukkan kualitas kerja yang layak.
“Uang rakyat miliaran kok hasilnya seperti ini? Baru selesai dikerjakan sudah ambrol. Ini jelas ada yang tidak beres! Pengawasan harusnya ketat, bukan asal tanda tangan saja,” ujar salah satu warga Yosowilangun dengan nada kesal, Kamis (6/11/2025).
Selain mutu pekerjaan yang dipertanyakan, masyarakat juga menyoroti minimnya transparansi proyek. Papan nama kegiatan di lokasi tidak memuat informasi lengkap seperti nama PPK, konsultan pengawas, volume pekerjaan, dan tanggal pelaksanaan. Padahal, aturan Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2023 menegaskan bahwa informasi tersebut wajib dicantumkan demi keterbukaan publik.
Sementara itu, Rudi, perwakilan dari CV. Bumi Lestarindo, ketika dikonfirmasi media ini, membenarkan adanya ambrol di beberapa titik. Ia berdalih bahwa hal tersebut disebabkan oleh kondisi tanah yang kurang padat dan cuaca ekstrem saat pekerjaan berlangsung.
“Ambrolnya pekerjaan itu mungkin karena galian yang kurang padat, dan waktu itu kondisi cuaca memang kurang mendukung karena musim hujan. Kami juga diberi jeda waktu oleh dinas untuk melakukan perbaikan, karena ini masih masuk masa pemeliharaan,” jelasnya.
Meski begitu, alasan tersebut dianggap tidak cukup untuk menutupi lemahnya kualitas pelaksanaan. Dengan anggaran mencapai miliaran rupiah, masyarakat menilai proyek ini seharusnya dibangun dengan perhitungan teknis yang matang, bukan sekadar mengejar waktu penyelesaian.
Kini publik mendesak agar pihak pelaksana segera memperbaiki seluruh bagian yang rusak, sekaligus meminta aparat terkait melakukan audit teknis terhadap mutu pekerjaan.
“Kalau proyek semahal ini ambrol dalam hitungan minggu, patut dipertanyakan apakah pekerjaan ini benar-benar sesuai spesifikasi atau hanya asal jadi,” pungkas warga lainnya dengan nada tajam.
Reporter: Sofyan







