Redaksi.co, Sukabumi — 5 elemen gerakan sipil dan keagamaan sepakat menyebut momen dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 bukan sekadar pergantian kalender birokrasi biasa. Momentum ini sebagai sebuah titik sujud sakral dan jeda kultural untuk membaca kembali arah kompas peradaban bangsa.
Pernyataan bersama tersebut disampaikan secara resmi oleh Anto Kusumayuda (PPJNA98), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Sinergi Media Merah Putih), dan KH Apep Sambas (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), M.Rafi Asyam (Forum UMKM Sukabumi). Mereka menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang merawat tanah air melalui perpaduan ketegasan fisik dan kejernihan spiritual.
“Secara filosofis, memimpin Indonesia adalah tugas merawat kosmos. Nusantara adalah bentang alam yang berjiwa, di mana tanah, air, dan manusianya terikat dalam sumpah suci para leluhur,” bunyi pernyataan bersama tersebut, diterima redaksi Kamis (15/10/2026).
Dua tahun ini menjadi saksi bagaimana fondasi dasar diletakkan untuk mengembalikan kedaulatan yang sempat tergores oleh keserakahan, ungkapnya.
Pemberantasan Korupsi Jadi ‘Ruwatan Nasional’
Dalam pernyataan itu, mereka menyoroti langkah tegas pemerintahan Prabowo dalam membersihkan korupsi dan menghentikan langkah oligarki hitam yang menggerogoti Sumber Daya Alam (SDA). Langkah ini dipandang dari kacamata filosofis sebagai konsep memayu hayuning bawana—sebuah upaya memperindah keindahan dunia dan menjaga keselarasan alam.
Menurut mereka, tindakan tegas ini adalah bentuk “ruwatan” nasional. Keserakahan oligarki yang mengeruk bumi pertiwi tanpa batas dinilai sebagai penyakit spiritual yang merusak harmoni bangsa.
“Menyelamatkan SDA bukan sekadar persoalan ekonomi atau hukum, melainkan sebuah kewajiban moral untuk mengembalikan hak sosiologis rakyat. Ketika alam diselamatkan dari tangan-tangan hitam yang serakah, bumi Nusantara kembali memancarkan energi murninya untuk mengayomi seluruh bangsa,” tegasnya.
Program MBG: Menabur Benih Jiwa Generasi Emas
Selain penyelamatan alam, perhatian besar juga diberikan pada pembangunan manusia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah dinilai sebagai langkah nyata menyiram benih manusia unggul demi menyambut Generasi Emas.
Secara filosofis, makanan merupakan sumber energi pertama (prana) yang akan membentuk kecerdasan dan watak generasi masa depan. Program MBG bukan sekadar program sosial, melainkan sebuah investasi spiritual dan biologis jangka panjang.
Lewat program ini, negara dinilai hadir layaknya seorang ibu yang menyusui anaknya. Negara memastikan tidak ada anak-anak yang terasing di tanah yang subur, sekaligus menyiapkan mereka memimpin dunia dengan akal yang tajam serta jiwa yang bersih.
Energi Spiritual, Solidaritas Kebangsaan, dan Doa untuk Asta Cita
Memasuki tahun kedua ini, momentum 20 Oktober 2026 menjadi panggilan terbuka bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas dan persatuan nasional. Kepemimpinan Prabowo Subianto dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu Nusantara dengan visi masa depan yang megah.
Pernyataan bersama ini meyakini ada getaran energi spiritual dari amanah para leluhur bangsa yang mengiringi langkah pemerintah, yakni sebuah mandat suci untuk melindungi, mengayomi, dan memanusiakan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
“Persatuan tidak tercipta dari keseragaman, melainkan dari rasa keadilan yang merata. Ketika korupsi dipangkas dan hak rakyat dikembalikan, rasa percaya (trust) tumbuh menjalar ke seluruh nadi bangsa. Inilah bahan bakar sejati dari persatuan nasional,” tambah mereka.
Menutup pernyataan bersama tersebut, ketiga tokoh lintas gerakan ini melangitkan doa terbaik untuk nakhoda Republik Indonesia. Mereka mendoakan agar Presiden Prabowo Subianto senantiasa dianugerahi kesehatan yang paripurna, kekuatan lahir dan batin, serta perlindungan Ilahi dalam memimpin bangsa.
Diharapkan pula, segala ikhtiar politik, ekonomi, dan sosial yang tertuang dalam Program Asta Cita dapat berjalan dengan lancar, sukses, dan membawa kemaslahatan nyata bagi seluruh rakyat.
Dengan fondasi kuat yang telah terpancang selama dua tahun terakhir, seluruh elemen masyarakat diajak untuk mengawal perjalanan spiritual dan kebangsaan ini dengan optimisme yang menyala, menjemput fajar kejayaan Nusantara yang kini tengah bersemi. (AS)***
Editor : M.Opik

