Redaksi.co MAMASA : Bupati turun langsung meninjau perbaikan pipa PDAM di Mambi yang baru beberapa hari bermasalah. Kehadiran itu dipublikasikan seolah pemerintah cepat tanggap terhadap keluhan masyarakat.
Namun di balik sorotan itu, ada jeritan panjang yang seakan sengaja dilupakan.
Aktivis Rizal Kahfi menyoroti kondisi warga Pepana yang hingga hari ini masih hidup dalam krisis air bersih bertahun-tahun lamanya. Pipa kecil, debit air tak mencukupi, dan saat musim kemarau tiba, warga terpaksa memikul jerigen berjalan jauh demi setetes air untuk bertahan hidup. Bahkan banyak keluarga hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
Ironisnya, penderitaan itu seperti tak pernah dianggap penting.
“Jangankan datang meninjau, bertanya keadaan warga saja tidak pernah,” tegas Rizal.
Warga Pepana sempat berharap Bupati mau bergeser sedikit dari Mambi untuk melihat langsung penderitaan mereka. Tetapi harapan itu kembali pupus. Pemerintah dinilai hanya hadir untuk masalah yang viral dan hitungan hari, sementara derita tahunan masyarakat Pepana dibiarkan membusuk tanpa solusi.
Kini satu pertanyaan keras menggema dari Pepana:
“Apakah kami bukan bagian dari Mamasa?”
Bagi warga, air bersih bukan hadiah politik yang datang saat kamera menyala. Air adalah hak dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya meminta keadilan dan kehadiran pemerintah di tengah penderitaan yang selama ini nyata mereka rasakan. (ZUL)

