Redaksi.co MAMASA : Sebuah borok pendidikan di jantung Sulawesi Barat terbongkar. Selama empat tahun terakhir, siswa di SDN 014 Saluang, Desa Pamoseang, dipaksa “puasa” ilmu agama Islam bukan karena keinginan mereka, melainkan karena dugaan perilaku parasit seorang oknum pendidik berinisial S.D.
Bayangkan, sejak diangkat pada tahun 2021, S.D. dituding tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di kelas untuk mengajar. Namun, yang membuat darah mendidih: gaji dan tunjangan dikabarkan tetap mengalir deras ke kantongnya. Ini bukan sekadar kelalaian, ini adalah perampokan hak dasar anak bangsa di bawah hidung birokrasi yang tumpul!
Laporan investigasi dari Jaringan Oposisi Loyal (JOL) Kabupaten Mamasa mengungkap aroma busuk di balik absennya sang guru. Ada dugaan kuat bahwa S.D. adalah sosok “tak tersentuh” karena memiliki kedekatan khusus dengan pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah.
“Sudah sering dirapatkan, dilaporkan ke pengawas, tapi hasilnya nol besar. Tidak ada perubahan! Apakah kedekatan dengan pejabat membuat seseorang bisa makan gaji buta tanpa kerja?” ujar sebuah sumber di lapangan dengan nada geram.
Puncak dari kemarahan ini meledak lewat sebuah aksi protes yang menyayat hati. Tanpa bimbingan guru, para siswa akhirnya “mengadu” kepada penguasa tertinggi negeri ini. Dalam sebuah foto yang viral, anak-anak polos tersebut membentangkan poster ditujukan kepada Prabowo Subianto:
“Pak Presiden, 4 tahun kami tidak belajar Agama Islam karena guru kami tidak pernah hadir.”
Muh Ikbal, pentolan Central Committee JOL Mamasa, menegaskan bahwa fenomena ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan generasi muda.

* Hak yang Dirampas: Siswa kehilangan akses moral dan spiritual selama hampir setengah dekade.
* Pengawasan Mandul: Laporan ke koordinator pengawas wilayah Kecamatan Mambi menguap begitu saja.
* Potensi Korupsi: Pembayaran gaji tanpa pelaksanaan tugas adalah pelanggaran berat disiplin ASN dan potensi kerugian negara.
Tokoh masyarakat sekaligus anggota komite sekolah, Abdullah Hasan, menyatakan kekecewaannya yang mendalam.
“Kami dirugikan secara lahir dan batin. Anak-anak kami butuh ilmu, bukan pembiaran dari pemerintah yang seolah tutup mata!”
Sikap Tegas Dinanti. Akankah Pemerintah Kabupaten Mamasa berani menindak tegas oknum “anak emas” ini, ataukah mereka akan membiarkan SDN 014 Saluang terus menjadi monumen kegagalan pengawasan pendidikan di Sulawesi Barat? Masyarakat tidak butuh alasan, mereka butuh keadilan! (ZUL)







