Redaksi.co MAMASA : Di tengah akses jalan yang sulit dan cuaca yang kerap tak bersahabat, pembangunan fasilitas pendidikan di UPTD SMA Negeri 1 Pana kini memasuki tahap akhir. Proyek yang telah dinantikan selama bertahun-tahun itu ditargetkan rampung dan diresmikan pada April mendatang.
Kepala sekolah, Matheus Tonglo, S.Pd., secara terbuka mengakui adanya keterlambatan dalam proses pengerjaan. Namun ia menegaskan, keterlambatan tersebut semata-mata dipicu faktor alam dan kondisi geografis yang berat.
“Kalau soal keterlambatan, kami akui. Tapi itu karena kondisi jalan, medan, dan hujan. Tidak ada hambatan lain. Ini murni soal waktu,” ujarnya. Selasa 3/3/2026 melalui sambungan telepon via WhatsApp
Distribusi material dan mobilitas pekerja disebut kerap terhambat akibat akses yang sulit ditembus, terutama saat hujan mengguyur kawasan tersebut. Meski demikian, pengerjaan tetap berjalan dan kini telah memasuki tahap penyelesaian.
Di tengah beredarnya laporan yang belum jelas sumbernya, pihak sekolah memastikan kualitas pekerjaan tetap menjadi prioritas utama. Seluruh proses pembangunan, kata Matheus, dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
“Untuk kualitas, kami pastikan sangat baik. Kami bekerja sesuai spesifikasi. Bahkan bisa dibilang lebih dari cukup,” tegasnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelapor terkait isu yang beredar. Keterbatasan jaringan komunikasi di lokasi proyek menjadi salah satu kendala dalam menjalin komunikasi.
“Di lokasi itu jaringan sangat terbatas. Kadang harus mencari titik tertentu untuk mendapatkan sinyal. Bisa saja ada yang menghubungi, tapi tidak semua panggilan dapat terjawab karena kondisi tersebut,” jelasnya.

Beberapa pihak, termasuk perwakilan LSM, disebut telah beberapa kali datang ke lokasi. Namun, kunjungan tersebut kerap berlangsung di luar jam kerja sehingga tidak selalu bertemu langsung dengan pihak sekolah.
Pembangunan ini bersumber dari APBN melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025. Bantuan tersebut merupakan bantuan langsung pemerintah pusat melalui kementerian kepada sekolah tanpa melalui instansi perantara. Durasi pengerjaan ditetapkan selama 150 hari kalender. Selama pelaksanaan, progres pembangunan dilaporkan secara rutin, mulai dari laporan harian hingga bulanan.
Tim kementerian bahkan telah dua kali turun langsung meninjau lokasi. Pada kunjungan pertama, rombongan belum berhasil mencapai titik proyek akibat medan berat. Kunjungan kedua akhirnya berhasil menembus lokasi, meskipun perjalanan disebut penuh tantangan.
Bagi Matheus, pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud perjuangan panjang. Selama empat tahun terakhir, ia berupaya menghadirkan fasilitas pendidikan yang layak agar siswa di wilayah tersebut tidak perlu menempuh jarak jauh untuk bersekolah.
“Saya hanya ingin anak-anak di sini tidak perlu jauh-jauh keluar untuk mencari ilmu. Ini perjuangan bersama,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat yang telah merealisasikan bantuan pembangunan tersebut. Dengan progres yang kini memasuki tahap akhir, peresmian ditargetkan dapat dilakukan pada April mendatang.
“Harapan kami bulan April sudah bisa diresmikan tanpa kendala. Ini demi masa depan anak-anak,” pungkasnya. (ZUL)







